Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts
Showing posts with label Pengembangan Diri. Show all posts

Sunday, September 30, 2018

Meraih Prestasi melalui Kegiatan Tulis-Menulis (Mengarang)

Sumber: www.photo-dictionary.com

Bidang tulis-menulis atau mengarang membutuhkan ketajaman pikiran, keluasan wawasan, dan kemampuan menuangkan ide secara tertulis. Khusus untuk menulis karya fiksi, seperti puisi, cerita pendek, dan novel, dibutuhkan juga kepekaan terhadap keindahan dan nilai-nilai kemanusiaan. Dibandingkan dengan olahraga dan kesenian, tulis-menulis memang mungkin kurang diminati oleh anak muda dan remaja. Namun, dalam beberapa tahun terakhir ini mulai ada gejala minat membaca dan menulis di kalangan remaja menunjukkan peningkatan.
Kegemaran atau kebiasaan menulis sangat baik untuk mengasah ketajaman pikiran dan perasaan serta kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Menulis juga sangat baik untuk meningkatkan wawasan dan kecerdasan. Orang yang gemar menulis biasanya akan gemar membaca dan mengamati. Mengapa demikian? Hal ini karena untuk tulisan-tulisan yang akan dibuatnya dia membutuhkan bahan berupa pengetahuan, data, atau fakta.
Menulis dapat menjadi ajang meraih prestasi. Prestasi yang dapat diraih melalui kegiatan menulis bahkan bisa sangat prestisius (bergengsi tinggi). Dengan menulis karya fiksi, seseorang dapat meraih hadiah Nobel untuk bidang sastra. Para penulis yang berprestasi tinggi, yakni yang karyanya diakui bermutu tinggi dan sangat bermanfaat bagi kemanusiaan, baik di dunia maupun di Indonesia, banyak mendapat penghargaan dan penghormatan tinggi dari masyarakat dan negara.
Seperti halnya olahraga dan kesenian, menulis juga membutuhkan potensi. Untuk mencapai kemampuan menulis yang baik, diperlukan pengembangan potensi menulis secara tepat. Upaya yang lazim untuk mengembangkan potensi menulis ialah membaca, mengamati, meneliti, dan berlatih menuangkan gagasan secara tertulis dengan rajin, teratur, disiplin, dan berkesinambungan.
Tidak sedikit penulis sastra Indonesia yang telah mendapat penghargaan bergengsi di tingkat internasional serta mengharumkan nama Indonesia di forum dunia. Penulis-penulis tersebut, antara lain, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Y.B. Mangunwijaya, Mochtar Lubis, Rendra, Pramudya Ananta Toer, Putu Wijaya, N.H. Dini, Andrea Hirata, dan Wiji Thukul. Selain mendapat penghargaan, sebagian karya mereka juga diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing (seperti bahasa Inggris, Prancis, Jerman, Jepang, dan Belanda).

Meraih Prestasi melalui Kegiatan Kesenian

Sumber: kutalabon.blogspot.com

Agak berbeda dengan olahraga yang ditekuni banyak orang untuk tujuan prestasi, kesenian umumnya ditekuni masyarakat bukan dengan tujuan utama meraih prestasi dalam arti mendapatkan juara melalui pertandingan atau perlombaan. Masyarakat umumnya menekuni kesenian sebagai hobi, penyaluran potensi, ekspresi diri, dan lahan mencari rezeki (mata pencaharian). Lomba atau festival kesenian jauh lebih jarang diadakan –– terutama di tingkat nasional dan internasional –– dibandingkan dengan lomba dan pertandingan olahraga.
Akan tetapi, kesenian tetap dapat menjadi ajang untuk mengukir prestasi. Lewat lomba dan festival, biarpun agak jarang dilakukan, kita dapat mencoba mengejar prestasi. Melalui pengabdian dalam kesenian yang serius dan konsisten, kita juga dapat memperoleh pengakuan dan apresiasi (penghargaan).
Para seniman yang karyanya dinilai unggul dan berguna bagi masyarakat seringkali mendapat penghargaan dalam berbagai bentuk dari masyarakat dan negara. Penghargaan biasanya diberikan bukan lewat ajang lomba atau festival, melainkan diberikan secara sukarela sebagai bentuk pengakuan dan tanda terima kasih. Lewat karya-karya yang bermutu tinggi, banyak juga seniman yang namanya menjadi termasyhur dan abadi –– di kancah nasional maupun internasional.
Kesenian umumnya lebih membutuhkan kepekaan perasaan dan keindahan. Mereka yang menekuni kesenian dituntut untuk memiliki kepekaan perasaan dan keindahan. Akan tetapi, jenis kesenian tertentu, seperti tari, teater, dan film, juga membutuhkan kesiapan dan kegesitan tubuh.
Ada banyak jenis kesenian yang dapat ditekuni oleh para remaja. Para remaja yang memiliki potensi seni dapat menjadikan salah satu atau beberapa jenis seni yang sesuai potensinya masing-masing sebagai ajang untuk mengukir prestasi. Untuk mencapai kecakapan yang tinggi dalam seni, dibutuhkan kerja keras dalam bentuk latihan yang rajin, tekun, disiplin, teratur, dan berkesinambungan.
Cabang-cabang kesenian yang dapat Anda tekuni, antara lain, seni musik, tari, teater (drama), lukis, patung, film, grafis, dan instalasi. Melalui cabang-cabang seni ini, Anda dapat mengekspresikan diri serta menghasilkan karya-karya yang berguna bagi masyarakat. Karya seni merupakan media atau alat untuk menyampaikan pikiran dan perasaan sekaligus juga koreksi dan kritik.
Dengan berkarya seni, Anda dapat mengharumkan nama bangsa dan negara serta  dapat  menghibur dan memberi pencerahan kepada masyarakat. Para seniman terkenal di dunia telah mengangkat reputasi negara dan bangsa asalnya serta berjasa memberikan hiburan dan nilai-nilai estetika (keindahan). Beberapa seniman Indonesia yang cukup terkenal di dunia internasional, antara lain, Raden Saleh, Affandi, dan Hendra Gunawan (seni rupa); Rendra, Putu Wijaya, Teguh Karya, Garin Nugroho, dan Christine Hakim (teater dan film); Pramudya Ananta Toer, Rendra, Goenawan Mohamad, dan Budi Darma (sastra); Gesang, Jack Lesmana, Tri Utami, dan Waljinah (musik); serta Sardono W. Kusumo, Retno Maruti, dan Boy G. Sakti (tari).

Meraih Prestasi melalui Olahraga

Sumber: www.bintangbola.info
Olahraga dapat ditekuni untuk berbagai keperluan. Masyarakat umumnya menggeluti olahraga untuk memperoleh kebugaran dan kesehatan tubuh serta menyalurkan hobi. Sebagian lagi menekuninya untuk mengembangkan potensi dan mengejar prestasi. Di antara mereka yang menggeluti olahraga sebagai ajang meraih prestasi, ada yang menjadikannya sebagai mata pencaharian dengan menjadi atlet profesional.
Olahraga lebih banyak membutuhkan kekuatan, ketahanan, dan kelincahan fisik walaupun pada zaman modern sekarang ini olahraga juga mulai memerlukan kecerdasan otak. Mereka yang berprestasi dalam bidang ini umumnya memiliki fisik yang bugar, kuat, lentur, dan gesit. Oleh sebab itu, remaja yang memiliki fisik kuat serta secara potensi memiliki bakat kelincahan gerak dapat menjadikan olahraga untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi.
Saat ini ada banyak sekali cabang olahraga yang dapat Anda tekuni. Jika Anda memiliki potensi dalam bidang ini, Anda perlu mengetahui lebih khusus potensi Anda berdasarkan cabang yang ada sebab tidak mungkin Anda memiliki potensi dalam semua cabang olahraga. Setelah mengetahui secara pasti cabang yang menjadi potensi Anda, Anda dapat mengembangkannya melalui latihan yang rutin, teratur, dan berkesinambungan.
Latihan juga harus dilakukan dengan benar, terarah, dan disiplin serta diikuti dengan banyak melakukan pertandingan uji coba. Untuk keperluan itu, Anda dapat menggabungkan diri ke dalam klub yang ada di daerah Anda. Klub biasanya memiliki sarana latihan yang lebih lengkap serta memiliki pelatih khusus sehingga setiap anggota klub dapat berlatih dan mendapat bimbingan secara terprogram dan tepat.
Berbagai turnamen atau kejuaraan olahraga di tingkat lokal, nasional, dan internasional bisa dijadikan ajang untuk meraih prestasi. Ada kejuaraan-kejuaraan khusus cabang olahraga tertentu yang diadakan secara berkala, seperti kejuaraan daerah renang, kejuaraan nasional bulu tangkis, dan kejuaraan dunia sepak bola (Piala Dunia). Selain itu, ada pula pesta olahraga yang mempertandingkan atau memperlombakan berbagai cabang olahraga (multievent) di berbagai level, seperti Pekan Olahraga Daerah (Porda), Pekan Olahraga Nasional (PON), SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade.
Berbagai turnamen atau kejuaraan itu telah melahirkan para juara. Para atlet Indonesia biasanya dapat mengukir prestasi dalam kejuaraan olahraga melalui cara yang berjenjang. Dimulai dari menjadi juara di tingkat daerah, mereka menjadi juara di tingkat nasional dan kemudian di tingkat internasional. Nama-nama atlet termasyhur Indonesia yang telah mengukir prestasi tinggi dan turut mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional, misalnya, Rudy Hartono, Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat, Ivana Lie, Ferawati Fajrin, dan Susi Susanti melalui cabang bulu tangkis; Yustedjo Tarik, Yayuk Basuki, dan Angelique Widjaya (tenis); Ardiansyah, Utut Adianto, dan Cerdas Barus (catur); Ellyas Pical dan Chris John (tinju); Rio Haryanto (balap mobil F-1); Aries Susanti Rahayu (panjat tebing); dan Lalu Muhammad Zohri (atletik).
Untuk masa-masa yang akan datang, para atlet Indonesia masih memiliki peluang besar untuk menjadi juara di tingkat internasional. Dalam cabang-cabang yang secara tradisional kuat, para atlet kita masih diperhitungkan dan disegani. Misalnya, dalam cabang bulu tangkis, pencak silat, dan tinju, para atlet kita beberapa kali masih mampu menjadi juara di berbagai event  internasional.
Nah, para remaja yang memiliki minat dan bakat dalam bidang olahraga, memiliki kesempatan luas untuk mengukir prestasi demi mengharumkan nama bangsa dan negara. Pada dasarnya, setiap atlet memiliki kesempatan untuk menjadi juara olahraga. Kuncinya, antara lain, memiliki tekat dan kemauan yang kuat, tekun dan disiplin dalam berlatih, tidak mudah menyerah dan putus asa, serta rajin mengikuti pertandingan atau kejuaraan.

Meraih Prestasi melalui Hobi


Sumber: adriarani.blogspot.com
Semua orang mempunyai hobi atau kegemaran. Tentunya Anda juga mempunyai hobi, bukan? Apa hobi Anda? Bagaimana cara Anda menekuni hobi selama ini? Apakah Anda pernah meraih prestasi tertentu dari kegiatan menekuni hobi tersebut?
Hobi merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Sebagai aktivitas, hobi merupakan bentuk penyaluran hasrat atau keinginan yang menyehatkan bagi manusia. Hobi dilakukan untuk berbagai maksud, tujuan, atau keperluan.  Ada hobi yang dilakukan untuk menyalurkan bakat, ada yang dilakukan untuk mengisi waktu luang, ada yang dilakukan untuk menjaga kondisi tubuh (menjaga kesehatan), ada yang dikerjakan sekaligus sebagai mata pencaharian, dan sebagainya.
Ada banyak sekali hobi yang dapat kita tekuni. Misalnya saja, membaca, menulis, fotografi, bermain musik, mancing, beburu, berselancar, hiking, camping, mendaki gunung, koleksi prangko (filateli), berkebun, bertaman, traveling, dan memelihara hewan. Hobi-hobi ini dapat dilakukan dengan berbagai pola dan variasi.
Perlu kita ketahui bahwa menekuni hobi dapat menjadi langkah permulaan dalam menggapai prestasi. Tak sedikit orang meraih prestasi tinggi di tingkat nasional dan internasional berawal dari menekuni hobi. Pada awalnya hobi dilakukan sekadar untuk mengisi waktu luang atau menjaga kesehatan tubuh. Namun, lama-kelamaan, kegiatan itu menjadi aktivitas yang ajek, terpola, dan terprogram dengan baik. Oleh karena terpola dan terprogram, hobi bisa terbentuk menjadi kecakapan (skill) yang mantap dan kompetitif (siap dilombakan/dipertandingkan).
Dari sekadar kegiatan mengisi waktu luang atau menjaga kondisi tubuh, hobi pun kemudian dapat menjelma menjadi profesi atau pekerjaan utama. Orang yang menekuni kegiatan tertentu sebagai hobi atau sampingan biasanya disebut sebagai (seorang) amatir. Adapun sebutan profesional lazim diberikan kepada orang yang menekuni kegiatan tertentu sebagai kegiatan pokok/utama untuk mata pencaharian dalam mempertahankan hidup. Nah, melalui kegiatan menekuni hobi, seorang yang semula amatir dapat berubah menjadi profesional yang berkemampuan tinggi jika hobi itu ditekuni secara terus-menerus dan sistematis.
Hobi cocok sekali ditekuni oleh pelajar atau remaja. Remaja berusia belasan tahun masih memiliki kesempatan dan masa depan yang panjang sehingga mempunyai banyak waktu untuk mengembangkan hobi menjadi prestasi. Anda tidak perlu terburu-buru untuk menjadkan hobi sebagai wahana untuk meraih prestasi. Yang penting, Anda perlu melakukan hobi Anda dengan serius, tekun, teratur, ajek, dan berkesinambungan agar hobi itu lambat laun dapat berkembang menjadi kecakapan/keterampilan.

Meraih Prestasi dalam Pelajaran Sekolah

Sumber: smk1sukoharjo.ppl.fkip.uns.ac.id

Sebagai pelajar, kegiatan utamamu sehari-hari adalah mengikuti pendidikan di bangku sekolah. Di sekolah kamu mempelajari bermacam-macam mata pelajaran. Tujuan utama belajar di sekolah tidak lain adalah mendapatkan ilmu pengetahuan sebagai bekal penting untuk menghadapi kehidupan pada masa depan.
Namun, kegiatan mempelajari berbagai macam bidang studi di sekolah juga dapat menjadi arena untuk meraih prestasi. Prestasi yang dapat diraih biasanya adalah mendapatkan nilai tertinggi di kelas dan sekolah serta antarsekolah di wilayah tertentu. Berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai tinggi atau tertinggi dalam mata pelajaran sekolah adalah hal yang sangat baik bagi pelajar karena akan menanamkan kebiasaan bersaing secara sehat serta memacu kemauan dan semangat belajar.
Hal terpenting dari persaingan untuk mendapatkan nilai tinggi atau tertinggi dalam pelajaran sekolah bukan diraihnya predikat juara. Menjadi juara memang penting, tetapi bukan yang terpenting. Yang terpenting dari semua itu ialah dengan bersaing dan berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai tinggi atau tertinggi, kita akan termotivasi untuk menekuni pelajaran sekolah dengan rajin, ulet, dan teratur sehingga jika tidak menjadi juara kelas atau juara sekolah pun kita tetap dapat menjadi pribadi yang pandai.
Kepandaian itulah yang kelak akan memberikan banyak sekali manfaat. Dengan pandai, kita menguasai banyak ilmu. Ilmu akan menjadi bekal yang sangat menentukan dalam mengarungi kehidupan masa mendatang. Dengan menguasai ilmu, selain lebih mudah mendapatkan pekerjaan dan mata pencaharian, kita juga akan menjadi orang yang bijaksana dan cerdik dalam mengatasi berbagai hambatan dan tantangan hidup.
Dengan berilmu, kita juga akan relatif lebih mudah dalam meraih prestasi dalam berbagai bidang kehidupan. Prestasi dalam bidang-bidang penting yang menentukan nasib kehidupan fisik orang banyak, seperti teknologi, ekonomi, dan pertanian, tidak mungkin diraih jika kita tidak berilmu. Prestasi dalam bidang lain yang turut menentukan nasib kehidupan spiritual masyarakat, seperti seni dan sastra, juga sulit diraih jika kita tidak berilmu sebab seni dan sastra pun sangat memerlukan dukungan ilmu.
Ilmu yang kita miliki akan turut menentukan kehidupan masyarakat dan bangsa. Jika sebagian besar dari kita merupakan orang-orang yang berilmu, kita akan menjadi masyarakat dan bangsa yang berilmu. Jika masyarakat dan bangsa kita berilmu, maka masyarakat dan bangsa kita akan memiliki keunggulan di hadapan bangsa-bangsa lain.

Monday, September 17, 2018

Sikap Penting dalam Meraih Prestasi

Sumber: http cgsyed.blogspot.com

Selain harus dilakukan sesuai dengan potensi, usaha meraih prestasi juga harus dibarengi dengan langkah-langkah pengembagan potensi yang tepat. Untuk meraih prestasi, potensi harus dikembangkan. Secara umum, pengembangan potensi harus dilakukan dengan cara belajar, berlatih, dan mempraktikkan secara teratur, berkesinambungan, tekun, dan ulet. Menurut para pakar, bakat atau potensi hanya berperan sekitar 10 persen saja dalam membantu seseorang meraih prestasi, sedangkan selebihnya (90 persen) ditentukan oleh usaha belajar, berlatih, dan kerja keras. Bahkan ada ahli dan praktisi yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi bakat sebenarnya hanya berperan 1 persen, adapun yang 99 persen ditentukan oleh usaha, kerja keras, dan doa.
Usaha pengembangan potensi untuk meraih prestasi juga membutuhkan beberapa sikap yang positif. Sikap positif yang dimaksud adalah sikap yang bersifat mendukung terwujudnya prestasi. Sikap ini harus ditumbuhkan karena usaha meraih prestasi umumnya tidak selalu berjalan mulus dan menghasilkan sukses. Sikap positif penting yang diperlukan, antara lain, optimis, berpikir dan berperasaan positif, disiplin, tidak lekas puas dengan hasil yang dicapai, tidak mudah menyerah, berani mengambil risiko, dan belajar dari pengalaman.
1.  Optimis
Setiap hendak melakukan sesuatu, terutama melakukan usaha memperbaiki nasib atau keadaan diri, kita disarankan untuk bersikap optimis. Nilai-nilai atau ajaran agama menyarankan kita untuk optimis: bahwa kita mempunyai peluang yang baik untuk mendapatkan hal yang positif jika kita berdoa pada Tuhan dan percaya akan pertolongan-Nya. Optimisme akan menjadikan kita tetap mempunyai pengharapan yang baik akan hal yang kita lakukan.
Apakah yang disebut optimisme? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 801), optimisme  adalah keyakinan atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan. Optimisme juga dapat diartikan sikap yang senantiasa mempunyai harapan baik dalam segala hal. Dengan pengertian dan sifatnya yang demikian, sikap optimis sangat dibutuhkan oleh setiap orang dalam melakukan berbagai aktivitas, termasuk meraih prestasi.
Sikap optimis akan menjaga kita untuk tetap berada pada jalur usaha mencapai prestasi. Dengan bersikap optimis, langkah-langkah kita akan tertuju pada prestasi yang sudah kita tetapkan sekaligus kita terpacu untuk berusaha untuk mencapai prestasi tersebut. Sebaliknya, tanpa sikap optimis, kita tidak akan memiliki pengharapan untuk mendapatkan prestasi sehingga usaha untuk mencapai prestasi menjadi sangat lemah.
2.  Berpikir dan Berperasaan Positif
Anda tentu pernah mendengar atau membaca istilah ‘berpikir positif’ (positive thinking), bukan? Berpikir positif adalah berpikir baik (tidak buruk, tidak jelek, atau tidak negatif) mengenai atau terhadap sesuatu hal. Berpikir positif dapat dikatakan mirip dengan berprasangka baik, yakni menaruh anggapan baik terhadap segala sesuatu yang dihadapi. Sementara itu, berperasaan positif (positive feeling) hakikatnya juga sama dengan berpikir positif; hanya bedanya berperasaan positif mengacu pada penggunaan perasaan atau hati.
Nah, dalam upaya mencapai prestasi, berpikir positif dan berperasaan positif sangat dibutuhkan. Berpikir positif dan berperasaan positif terhadap segala hal yang dihadapi akan menempatkan kita pada suasana yang kondusif. Dengan berpikir dan berperasaan positif, pikiran dan hati kita akan tenang, tenteram, sejuk, gembira, dan relatif bebas dari kekhawatiran atau ketakutan yang dapat menjadi gangguan yang serius. Hal ini penting sebagai bagian untuk mendapatkan konsentrasi dan fokus selama menjalankan latihan dalam upaya membentuk kemampuan atau kecakapan. Kemampuan atau kecakapan adalah modal atau sarana utama dalam mencapai prestasi.
3.  Disiplin
Disiplin merupakan sikap yang tidak dapat ditinggalkan dalam meraih prestasi. Tanpa disiplin, usaha meraih prestasi akan mandek. Hampir tidak ada prestasi dan sukses yang dicapai dengan sikap manja, malas-malasan, santai, asal-asalan, dan apa adanya. Orang-orang yang berprestasi adalah orang-orang yang umumnya berdisiplin tinggi. Mereka belajar dan berlatih serta mempraktikkan apa yang dipelajari dan dilatihkan dengan rutin, teratur, tepat waktu, dan sesuai ketentuan.
Potensi akan sulit berkembang menjadi kecakapan atau keterampilan jika tidak diasah dengan sikap disiplin. Bahkan usaha dan kerja keras pun jika dilakukan dengan sembarangan tanpa disiplin masih sulit menghasilkan prestasi. Disiplin berperan sangat penting dalam membentuk potensi menjadi kecakapan atau keterampilan.
Disiplin meliputi keteraturan, keajekan, dan ketepatan waktu dalam belajar dan berlatih. Disiplin juga mencakup keteraturan dalam melakukan hal-hal rutin keseharian, seperti makan, istirahat, bergaul, dan berkomunikasi dengan sesama. Orang dikatakan memiliki disiplin diri yang baik manakala ia dapat menjalankan bidang kegiatan dan kehidupan sehari-harinya dengan ajek, teratur, dan tepat waktu.
4.  Tidak Cepat Merasa Puas
Perasaan cepat puas menghalangi kita untuk mencapai kemampuan atau keterampilan yang optimal. Dengan perkataan lain, perasaan cepat puas menghambat kita dalam mencapai prestasi tinggi. Pencapaian prestasi seseorang sering mengalami kemandekan akibat munculnya perasaan cepat puas.
Perasaan lekas merasa puas biasanya mudah menghinggapi para pemula pemburu prestasi. Mereka ini umumnya kurang maksimal dalam meraih prestasi karena mungkin kurangnya pengetahuan mengenai jenjang atau tingkatan prestasi serta terbawa oleh perasaan mudah larut dalam kegembiraan yang berkepanjangan. Begitu prestasi tertentu diraih, perasaan senang dan puas langsung datang menyergap tanpa menyadari bahwa prestasi-prestasi lanjutan di atasnya masih banyak yang belum dicapai.
Untuk mencapai prestasi dan sukses, kita harus mencanangkan sikap tidak lekas merasa puas. Dengan tidak lekas merasa puas, kita akan terpacu untuk terus-menerus meningkatkan prestasi. Dengan tidak lekas merasa puas, kita akan termotivasi untuk meraih hasil yang lebih baik, lebih besar, dan lebih tinggi.
Pernahkah Anda mengikuti kisah para juara dunia olahraga yang masih berambisi untuk memperbaiki rekor waktu yang sudah dicapainya biarpun mereka sudah menjadi juara dunia? Itulah contoh sikap tidak cepat puas yang patut kita teladani. Jika mereka yang sudah menjadi juara dunia saja masih ingin terus meningkatkan prestasi, kita yang tentunya masih belum apa-apa jelas perlu terus meningkatkan kemampuan dalam upaya mencapai prestasi yang lebih besar dan lebih tinggi.
5.  Tidak Mudah Menyerah
Hambatan seringkali muncul serta kegagalan tidak jarang terjadi dalam usaha mencapai prestasi. Itu sebenarnya adalah hal yang biasa dalam liku-liku mencapai prestasi. Akan tetapi, kenyataannya, banyak orang menyerah begitu menemui hambatan berat atau mengalami kegagalan. Oleh karena menyerah, usaha per-buruan dan pencapaian prestasi pun menjadi kandas dan berakhir.
Padahal, hambatan sesungguhnya dapat diatasi serta kegagalan pun dapat dijadikan pelajaran. Untuk mencapai prestasi tinggi, kendala dan kegagalan hampir senantiasa menghadang. Tidak ada prestasi tinggi, apalagi di tingkat nasional dan internasional, yang tanpa kendala dan ancaman kegagalan.
Para peraih prestasi tinggi di level nasional dan internasional umumnya sudah sangat kenyang dengan hambatan dan kegagalan. Sebelum mencapai prestasi tinggi, mereka dihadang oleh banyak sekali hambatan serta berkali-kali mengalami kegagalan. Namun, berkat sikap tidak mudah menyerah, mereka dapat mengatasi semua hambatan serta dapat mengubah kegagalan menjadi pelajaran dan pemacu semangat sehingga akhirnya berhasil meraih prestasi.
Tak mudah menyerah merupakan sikap yang wajib diambil dalam meraih prestasi. Prestasi, apalagi prestasi tinggi, tidak mungkin diraih dengan mudah dan sekali tempuh. Rasanya hampir mustahil dengan satu kali perjuangan kita langsung dapat mengatasi semua hambatan dan pesaing serta begitu saja dapat meraih prestasi puncak. Kancah perebutan prestasi tinggi penuh dengan persaingan berat serta hambatan dan kegagalan sering menghadang sehingga hanya mereka yang punya sikap tidak mudah menyerahlah yang berpeluang untuk menggapainya.
6.  Berani Mengambil Risiko
Semua usaha mengandung risiko, termasuk usaha meraih prestasi. Risiko yang paling umum dalam melakukan usaha tidak lain adalah kegagalan. Kegagalan kecil atau besar dapat dialami oleh siapa saja yang mencoba merintis usaha mewujudkan sesuatu. Kegagalan selalu membayang-bayangi setiap usaha.
Selain risiko kegagalan, dalam upaya meraih prestasi juga ada risiko-risiko lain yang akan muncul. Risiko yang dimaksud tidak sekadar menjadi kemungkinan yang dapat terjadi, tetapi benar-benar akan terjadi. Risiko-risiko tersebut tidak lain adalah mengeluarkan tenaga dan biaya, mengorbankan waktu dan kesempatan bermain, memeras keringat dan pikiran, dan sebagainya. Risiko-risiko ini mau tidak mau harus dialami dalam usaha mencapai prestasi.
Dengan demikian, upaya meraih prestasi harus dilandasi kesadaran bahwa risiko kegagalan menjadi bagian yang tak terpisahkan. Kesadaran seperti ini akan menumbuhkan sikap berani mengambil risiko. Keberanian mengambil risiko akan memberikan kekuatan tersendiri karena dapat melenyapkan keragu-raguan dan kecemasan serta memicu tumbuhnya semangat yang lebih kuat dalam upaya meraih prestasi.
7.  Belajar dari Pengalaman
Ada sebuah ungkapan klise, tetapi sungguh memberi manfaat yang nyata. Ungkapan itu adalah “Pengalaman merupakan guru yang baik”. Tak diragukan lagi, pengalaman merupakan sumber pembelajaran yang penting dalam meraih sukses pada masa depan.
Pengalaman di sini merujuk pada kejadian-kejadian masa lalu yang pernah dialami. Pengalaman, apa pun bentuknya, baik keberhasilan maupun kegagalan, dapat menjadikan kita lebih matang, dewasa, dan mumpuni. Dengan berkali-kali mengalami kejadian (kesuksesan dan kegagalan), kita akan lebih kuat secara fisik dan kejiwaan, lebih tegar dalam menghadapi tantangan, serta lebih bijaksana dalam mengambil sikap dan tindakan.
Oleh sebab itu, belajar dari pengalaman adalah hal yang harus dilakukan dalam upaya meraih prestasi. Jika suatu saat kamu pernah mengalami (peristiwa) kegagalan dalam sebuah lomba; dengan belajar sungguh-sungguh dari kejadian itu, kamu pasti akan lebih siap dan lebih tangguh dalam menghadapi lomba serupa untuk yang akan datang. Belajar dari pengalaman akan membuat langkahmu ke depan lebih hati-hati, waspada, terukur, dan terkontrol. Strategi untuk mengatasi segala kendala dan tantangan juga akan lebih mantap. Dengan begitu, peluang kamu untuk mencapai sukses dalam lomba itu menjadi lebih terbuka.
Pengalaman yang dapat dijadikan sumber pembelajaran bukan hanya pengalaman diri sendiri, melainkan juga pengalaman orang lain, terutama pengalaman orang-orang yang sukses dan berprestasi. Dalam banyak hal, pengalaman orang-orang besar yang sukses dan berprestasi mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat baik. Dari pengalaman mereka, kita, antara lain, dapat mengambil dan meniru kiat-kiat mereka dalam meraih sukses dan prestasi. Pengalaman orang-orang sukses, jika kita mempelajarinya dengan serius, dapat menginspirasi kita untuk meraih sukses yang serupa.

Meraih Prestasi sesuai dengan Potensi Diri

Sumber: de.123rf.com

Diketahuinya potensi diri menjadi kunci pembuka dimulainya upaya meraih prestasi. Kita   dapat segera memulai usaha meraih prestasi begitu kita sudah mengetahui potensi diri. Dengan mengetahui potensi diri, kita dapat membuat perencanaan dan menentukan langkah-langkah yang lebih tepat dalam mengembangkan potensi untuk meraih prestasi.
Dalam memulai usaha mengembangkan potensi untuk meraih prestasi, satu hal harus benar-benar dicamkan bahwa prestasi yang hendak dicapai sesuai dengan potensi atau kemampuan yang dimiliki. Harus dihindari upaya mencapai prestasi di luar bidang potensi atau kemampuan yang dimiliki. Jadi, jika kita tahu bahwa potensi, kemampuan, atau bakat kita ada dalam bidang seni, prestasi yang akan kita raih haruslah dalam bidang seni, jangan dalam bidang lain, seperti olahraga atau teknologi.
Langkah coba-coba untuk berprestasi di luar bidang potensi atau kemampuan merupakan tindakan yang keliru dan sia-sia. Selain merupakan pemborosan waktu, tenaga, dan biaya, langkah seperti itu akan membawa kita pada kegagalan dan keterpurukan. Kita hampir pasti tidak akan mampu bersaing karena kita tidak memiliki modal (potensi) yang cukup, sementara di sisi lain sangat mungkin para pesaing kita terdiri atas orang-orang yang berpotensi karena pada zaman yang kian spesialistis sekarang ini orang cenderung makin menggeluti bidang kemampuannya masing-masing.
Tidak ada manusia superior  yang mampu berprestasi dalam semua bidang. Setiap manusia dibekali potensi spesifik tersendiri sehingga usaha untuk meraih prestasi harus disesuaikan dengan potensi yang dimiliki. Berlagak superior  dengan mencoba berprestasi dalam semua atau sebagian besar bidang kehidupan merupakan perbuatan mubazir karena tidak akan pernah mampu dilakukan oleh manusia yang wajar dan normal.

Meraih Prestasi dan Sukses dengan Belajar dari Pengalaman

Sumber: de.123rf.com

Ada sebuah ungkapan klise, tetapi sungguh memberi manfaat yang nyata. Ungkapan itu adalah “Pengalaman merupakan guru yang baik”. Tak diragukan lagi, pengalaman merupakan sumber pembelajaran yang penting dalam meraih sukses pada masa depan.
Pengalaman di sini merujuk pada kejadian-kejadian masa lalu yang pernah dialami. Pengalaman, apa pun bentuknya, baik keberhasilan maupun kegagalan, dapat menjadikan kita lebih matang, dewasa, dan mumpuni. Dengan berkali-kali mengalami kejadian (kesuksesan dan kegagalan), kita akan lebih kuat secara fisik dan kejiwaan, lebih tegar dalam menghadapi tantangan, serta lebih bijaksana dalam mengambil sikap dan tindakan.
Oleh sebab itu, belajar dari pengalaman adalah hal yang harus dilakukan dalam upaya meraih prestasi. Jika suatu saat Anda pernah mengalami (peristiwa) kegagalan dalam sebuah lomba; dengan belajar sungguh-sungguh dari kejadian itu, Anda pasti akan lebih siap dan lebih tangguh dalam menghadapi lomba serupa untuk yang akan datang. Belajar dari pengalaman akan membuat langkah kita ke depan lebih hati-hati, waspada, terukur, dan terkontrol. Strategi untuk mengatasi segala kendala dan tantangan juga akan lebih mantap. Dengan begitu, peluang kita untuk mencapai sukses dalam lomba itu menjadi lebih terbuka.
Pengalaman yang dapat dijadikan sumber pembelajaran bukan hanya pengalaman diri sendiri, melainkan juga pengalaman orang lain, terutama pengalaman orang-orang yang sukses dan berprestasi. Dalam banyak hal, pengalaman orang-orang besar yang sukses dan berprestasi mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat baik. Dari pengalaman mereka, kita, antara lain, dapat mengambil dan meniru kiat-kiat mereka dalam meraih sukses dan prestasi. Pengalaman orang-orang sukses, jika kita mempelajarinya dengan serius, dapat menginspirasi kita untuk meraih sukses yang serupa.

Thursday, September 13, 2018

Kaitan Prestasi Seseorang dan Keunggulan Bangsa

Sumber: smpn2garut.sch.id

Apakah prestasi seseorang memiliki kaitan dengan nama atau reputasi suatu bangsa? Apakah prestasi seseorang juga berhubungan dengan keunggulan suatu bangsa? Mungkinkah prestasi warga negara mampu mengangkat derajat bangsa sekaligus membawa keunggulan bangsa di kancah internasional?
Prestasi seseorang jelas berhubungan dengan derajat dan keunggulan suatu bangsa. Prestasi internasional yang dicapai seorang warga negara akan mendorong terangkatnya derajat dan keunggulan bangsa. Melalui media massa kita tahu nama-nama orang berprestasi di tingkat dunia. Nama mereka mencuat bersama nama bangsanya masing-masing karena mereka memang tidak dapat dilepaskan dengan kebangsaannya. Kehebatan prestasi mereka juga menunjukkan bahwa bangsa mereka memiliki keunggulan.
Kita tentu mengenal nama-nama yang sudah melegenda, seperti Ronaldo da Lima, Zinedine Zidane, Ronaldinho, Lionel Messi, Xavi Hernandez, Steve Jobs, Bill Gates, James Watt, Alfred Nobel, Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Rafael Nadal, Justine Henin, Valentino Rossi, Wolfgang Amadeus Mozart, Beethoven, Michael Jordan, Magic Johnson, Tiger Wood, Muhammad Ali, atau Chris John. Mereka adalah para pemilik prestasi dunia yang selalu identik dengan nama dan citra bangsanya. Setiap melihat  sosok mereka di televisi atau majalah, ingatan kita dengan otomatis akan tertuju pada kebangsaan mereka masing-masing. Setiap ingat akan kebangsaan mereka, kita jadi paham pula akan keunggulan bangsa mereka, setidaknya keunggulan itu ada pada bidang yang masing-masing mereka tekuni.
1.  Prestasi Individu Menentukan Keunggulan Bangsa
Secara umum, prestasi individu menentukan keunggulan bangsa dari individu yang bersangkutan. Kita dapat memperhatikan contoh ini: jika suatu sekolah memiliki banyak siswa yang berprestasi, dengan sendirinya sekolah memiliki keunggulan di antara sekolah-sekolah yang lain. Hal ini karena gabungan prestasi dari para siswa itu akan membentuk kesatuan prestasi yang mewakili prestasi sekolah. Demikian pula dengan bangsa; jika suatu bangsa memiliki banyak warga negara yang berprestasi, bangsa yang bersangkutan akan memiliki keunggulan karena gabungan prestasi dari para warga negara akhirnya akan menyatu membentuk dan mewakili prestasi bangsa.
Prestasi warga negara menunjukkan gambaran tentang kemampuan bangsa. Satu warga negara berprestasi belum menggambarkan kemampuan unggul suatu bangsa, tetapi jika prestasi itu dicapai oleh banyak warga negaranya, itu sudah jelas menunjukkan kemampuan bangsa yang dimaksud. Banyaknya warga negara yang berprestasi menunjukkan bahwa bangsa dari para warga negara itu memiliki kemampuan yang tidak rendah. Dengan kata lain, bangsa yang memiliki banyak warga negara berprestasi akan mempunyai kemampuan yang tinggi. Adapun kemampuan yang tinggi akan mempengaruhi tingkat keunggulan suatu bangsa dalam persaingannya dengan bangsa-bangsa lain.
Oleh sebab itu, prestasi para warga negara bermakna penting bagi suatu bangsa dalam meraih kemampuan dan keunggulan. Prestasi para warga negara amat dibutuhkan untuk meraih kemampuan dan keunggulan bangsa secara keseluruhan. Suatu bangsa perlu memiliki sebanyak mungkin warga negara berprestasi agar bangsa itu memiliki kemampuan dan keunggulan. Begitu pula bangsa kita, amat membutuhkan kehadiran sebanyak mungkin warga negara yang berprestasi agar bangsa kita memiliki keunggulan di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia.
2.  Meraih Prestasi untuk Keunggulan Bangsa
Nah, upaya untuk mewujudkan keunggulan bangsa Indonesia menjadi tanggung jawab semua warga negara bangsa kita. Lebih khusus, tanggung jawab untuk meraih keunggulan bangsa kita pada masa depan berada di pundak para generasi muda. Pada masa depan, saat persaingan antarbangsa akan berlangsung sangat ketat dan keras akibat globalisasi yang kian deras, bangsa kita membu-tuhkan keunggulan. Keunggulan tersebut akan dapat diwujudkan jika sejak saat ini generasi muda mulai merintis upaya untuk meraih prestasi setinggi-tingginya.
Jika kelak setelah dewasa para remaja banyak yang meraih prestasi tinggi, bangsa kita akan banyak meraih kemajuan sehingga akan pula memiliki keunggulan. Prestasi dapat diraih dalam bidang apa saja. Akan tetapi, satu hal telah jelas, prestasi tak mungkin diraih dengan usaha yang setengah-setengah. Pada dasarnya, semua orang mempunyai potensi. Dan potensi yang kita miliki akan membuahkan prestasi tinggi jika kita mengembangkannya dengan usaha dan kerja keras yang penuh totalitas.
(Sumber: Sadah Siti, http://caraelok.blogspot.com/search/label/Pengembangan%20Potensi)

Pengertian Prestasi dan Proses Berprestasi

Sumber: jogjakartanews.com


Kita tentu paham dengan makna kata ‘prestasi’. Walaupun tidak mengetahui secara persis maknanya, kita mungkin dapat mengira-ngira atau merasakan apa yang tersirat dan mencuat dari kata ‘prestasi’. Apakah sesungguhnya prestasi itu? Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari segala yang diusahakan, dikerjakan, atau dilakukan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2002: 895).
Apakah semua ‘pencapaian’ atau ‘hasil yang dicapai’ layak disebut sebagai prestasi? Dari segi bahasa, prestasi memang dapat diartikan sebagai hasil yang dicapai, tak peduli hasil itu baik atau jelek, tinggi atau rendah. Namun, dalam pengertian sehari-hari, umumnya prestasi dianggap sebagai pencapaian yang baik atau tinggi. Pencapaian yang rendah atau biasa-biasa saja seringkali tidak dianggap sebagai prestasi atau dikatakan prestasi. Seringkali dikatakan bahwa orang yang berprestasi ialah orang yang mampu mencapai hasil yang tinggi atau bahkan tertinggi, sedangkan orang yang tidak mampu mencapai hasil yang tinggi dianggap tidak berprestasi.
Sebagai pencapaian yang tinggi, prestasi umumnya diraih dengan usaha yang tidak gampang dan sederhana. Prestasi lazim diraih dengan usaha dan kerja yang keras, bahkan tidak jarang amat keras. Pribadi yang berprestasi biasanya adalah pribadi yang ulet, tekun, rajin, disiplin, tangguh, memiliki tekad yang kuat, tidak mudah puas, dan tidak mudah putus asa. Orang yang manja, malas, tidak berdisiplin, dan mudah menyerah sangat sulit atau mustahil mampu meraih prestasi.
Prestasi tidak jarang diraih melalui perjalanan waktu yang panjang. Setelah sejak kecil belajar, berlatih, berdisiplin, mengembangkan diri, memeras otak, mengeluarkan biaya, dan menghabiskan banyak energi, orang sering baru meraih prestasi pada usia dewasa. Hal ini, misalnya saja, banyak terjadi pada olahragawan, ilmuwan, dan sastrawan.
Prestasi juga seringkali diraih melalui serangkaian kegagalan. Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan yang jumlahnya dapat mencapai belasan atau bahkan puluhan kali, orang baru dapat meraih prestasi pada sekian belas tahun kemudian. Kegagalan demi kegagalan tidak membuat patah semangat, melainkan justru makin memacu hasrat dan semangat untuk mencapai hasil tinggi sehingga kemudian dapat diraih prestasi. Hal ini, misalnya, dialami oleh para ilmuwan, pengusaha, dan industriawan.
Orang yang berprestasi biasanya dinilai sebagai orang yang sukses. Orang berprestasi dianggap memiliki keistimewaan. Keistimewaan itu tidak sepenuhnya dan tidak selalu terkait dengan kecerdasan, bakat, uang, materi, atau keberuntungan. Keistimewaan itu justru kerapkali berwujud tekad dan semangat serta kemauan untuk berusaha, bekerja, berlatih, berdoa, dan berkorban. Artinya, keistimewaan orang-orang yang berprestasi dan sukses umumnya terletak pada kesediaan mereka untuk melakukan hal-hal berat penuh pengorbanan (waktu, tenaga, pikiran, dan sebagainya) dan bukan semata-mata karena kecerdasan, bakat, uang, materi, atau keberuntungan.
Dengan begitu jelas, prestasi diperoleh lewat proses yang sulit dan panjang. Namun, prestasi dapat diraih oleh setiap orang. Setiap orang memiliki peluang dan kesempatan untuk meraih prestasi. Prestasi bukanlah monopoli orang-orang yang jenius, pandai, cantik, tampan, kuat, atau kaya. Orang yang dari segi kecerdasan biasa-biasa saja dan secara ekonomi lemah (miskin) banyak sekali yang meraih prestasi tinggi dan sukses besar dalam hidupnya, sebaliknya tidak sedikit orang yang cerdas lagi kaya pada masa-masa akhir kehidupannya jatuh menjadi orang yang gagal, miskin, telantar, dan menderita.

Efektivitas dan Efisiensi dalam Pengembangan Potensi

Sumber: revistavitrineibiuna.com.br


Dalam banyak kasus, potensi seperti misteri atau teka-teki. Kita percaya bahwa semua orang memiliki potensi, tetapi seringkali kita sendiri bahkan tidak tahu apa potensi sejati atau potensi sesungguhnya yang kita miliki atau yang ada pada diri kita sendiri. Potensi sungguh misterius; kehadirannya dapat dirasakan, tetapi wujud atau bentuknya kerapkali tak tertangkap penglihatan sehingga senantiasa menyebabkan penasaran.
Tidak sedikit orang yang selama hidupnya tak pernah mengetahui secara pasti apa potensi yang mereka miliki walaupun hidup mereka sendiri sebenarnya juga tidak gagal. Bahkan kita juga tidak tahu, apakah orang-orang hebat, seperti Ibnu Khaldun, Aristoteles, Isaac Newton, Leonardo da Vinci, Leo Tolstoy, William Shakespeare, Amadeus Mozart, Napoleon Bonaparte, Thomas Jefferson, Mahatma Gandi, Albert Einstein, Ernest Hemingway, Mohammad Hatta, Pele, Muhammad Ali, Steve Job, dan Bill Gate, mengetahui potensi mereka masing-masing. Untuk menjadi sukses, besar, dan legendaris seperti itu, apakah mereka telah melakukan upaya pengembangan potensi sesuai dengan potensinya aslinya masing-masing? Apakah Aristoteles sadar betul bahwa bakat terbesarnya memang benar-benar dalam bidang filsafat atau Muhammad Ali sepenuhnya paham bahwa bakat terbesarnya memang sungguh-sungguh dalam olahraga tinju? Jangan-jangan Aristoteles memiliki bakat besar juga dalam menyanyi sehingga jika dia mengembangkan potensinya ini dengan benar serta keadaan zaman saat itu mendukung, selain akan menjadi filsuf besar dia juga akan menjadi penyanyi dunia papan atas. Jangan-jangan Muhammad Ali juga memiliki bakat besar dalam melukis sehingga manakala dia mengembangkannya dengan optimal, selain menjadi juara dunia tinju, ia juga akan dikenal sebagai seorang pelukis yang sejajar dengan Pablo Picasso dan Rembrandt.
Sejarah memang membuktikan, tokoh-tokoh besar dan sukses tidak selalu lahir dari sinkronnya antara usaha pengembangan potensi di sisi satu dan potensi itu sendiri (potensi yang ada) di sisi lain. Artinya, lahirnya tokoh-tokoh sukses tidak selalu atau tidak selamanya ditentukan oleh kesesuaian antara potensi yang dimiliki para tokoh dengan usaha yang mereka lakukan untuk mengembangkan potensi-potensi tersebut. Bisa saja seorang tokoh tertartik dan berminat untuk menghasilkan karya elektronika serta berkat kerja keras dan keuletannya ia sukses menjadi pengusaha elektronika terkemuka dan terkaya, padahal sebenarnya  ia memiliki bakat besar dalam bidang musik atau sastra.
Namun, tentu saja, keajaiban atau keanehan semacam itu tidak serta merta bisa kita jadikan alasan untuk meremehkan arti pentingnya mengetahui dan memastikan potensi sebagai titik tolak untuk mengembangkan dan mengoptimalkan potensi dalam upaya meraih kesuksesan. Bagaimanapun juga, untuk sebagian besar manusia, mengetahui potensi diri serta mengembangkannya menjadi kompetensi atau kualifikasi yang dapat membawa kesuksesan lebih penting dan lebih diperlukan daripada melakukan upaya ngawur dalam meraih kesuksesan hidup. Artinya, segala upaya yang kita lakukan untuk meraih kesuksesan, bagaimanapun, perlu dan penting untuk disesuaikan dengan potensi kita masing-masing. Keajaiban, keanehan, atau keunikan memang dapat terjadi –– seperti yang diilustrasikan di depan tadi –– tetapi itu bersifat perkecualian serta hanya bisa dilakukan oleh orang-orang dengan kemampuan yang luar biasa serta tekat, semangat, kerja keras, dan dukungan lingkungan yang tidak biasa pula.
Dalam kehidupan modern saat ini, kesuksesan sulit diraih dengan cara-cara yang boros waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. Di tengah makin banyaknya jumlah penduduk, meningkatnya kesadaran untuk hidup sukses, ketatnya persaingan, kencangnya globalisasi, terbatasnya berbagai sumber daya, serta majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, kesuksesan harus diraih dengan cara-cara yang efektif dan efisien. Nah, efektivitas dan efisiensi dalam meraih kesuksesan hanya dapat dicapai jika upaya pengembangan potensi kita lakukan berdasarkan pengenalan dan pengetahuan yang tepat mengenai potensi asli yang kita miliki. Makin kita tepat dalam mengenali dan mengetahui potensi yang kita miliki untuk kita kembangkan menjadi kompetensi dan kualifikasi, maka makin efektif dan efisienlah usaha yang kita lakukan dalam mencapai kesuksesan.
Dengan mengenali dan mengetahui potensi diri secara tepat, kita telah melakukan penghematan waktu, biaya, tenaga, dan pikiran secara besar-besaran. Hal ini karena kita tidak terus-menerus berkutat dan disibukkan oleh upaya-upaya yang tak terencana, tak jelas, dan tak terarah, yang menghabiskan sumber daya (uang, tenaga, pikiran, waktu, dan sebagainya) yang besar sekali. Bayangkan, berapa waktu, biaya, tenaga, dan pikiran yang kita hambur-hamburkan dengan percuma jika kita salah dalam mengenali dan mengetahui potensi? Betapa besarnya pemborosan yang kita lakukan jika selama bertahun-tahun kita kerja keras belajar dan berlatih, tetapi ternyata apa yang kita latih tidak sesuai dengan potensi sejati yang kita miliki? Betapa sayangnya jika bakat kita, misalnya, dalam bidang seni, tetapi yang kita genjot terus kemampuan kita dalam bidang olahraga, atau sebaliknya?
Dengan demikian, efektivitas dan efisiensi pengembangan potensi menjadi bagian dari faktor yang menentukan dalam meraih prestasi dan kesuksesan. Prestasi dan kesuksesan tidak dapat diraih dengan jalan pengembangan potensi yang dilakukan secara spekulatif (untung-untungan). Pengembangan potensi yang dilakukan secara spekulatif tidak hanya akan mengakibatkan pemborosan banyak hal, melainkan juga menyebabkan upaya meraih prestasi dan sukses sangat sulit dilakukan atau bahkan mudah sekali menemui kegagalan.

Hambatan dalam Pengembangan Potensi

Sumber: zdravi.euro.cz


Mengembangkan potensi untuk meraih prestasi bukanlah usaha yang mudah dan sederhana. Dalam praktiknya, akan ditemui banyak kendala atau hambatan. Kian tinggi prestasi yang hendak diraih, makin besar pula hambatan yang biasanya menghadang. Mengatasi hambatan akan menjadi usaha lain yang harus dilakukan dalam upaya keseluruhan meraih prestasi.
Hambatan dalam pengembangan potensi akan bersifat internal dan eksternal. Hambatan internal adalah hambatan yang muncul dari dalam diri sendiri, sedangkan hambatan eksternal muncul dari lingkungan sekitar. Kedua hambatan ini memiliki bentuk dan sifat yang berbeda.
1.  Hambatan dari Diri Sendiri
Apakah Anda pernah atau sering merasa malas, takut, cemas, bimbang, atau rendah diri saat akan melakukan sesuatu? Apakah kita selamanya akan merasa berambisi, tegar, dan yakin saat akan memulai kegiatan? Dapatkah kita selalu konsisten untuk merasa optimis bahwa kita akan mampu dan sukses dalam mewujudkan sesuatu?
Kiranya hampir tidak ada orang yang selamanya mampu bersikap optimis saat hendak memulai pekerjaan atau kegiatan. Merasa bimbang atau khawatir saat akan melakukan sesuatu adalah keadaan yang wajar dan manusiawi. Semua manusia pernah mengalaminya karena semua manusia pada dasarnya memiliki kelemahan.
Akan tetapi, itulah yang namanya hambatan yang muncul dari diri sendiri. Hambatan seperti itu datang dari dalam perasaan sendiri dan sering muncul tanpa alasan yang jelas. Perasaan enggan, cemas, tidak percaya diri, pesimis, dan sejenisnya mungkin saja muncul akibat adanya saingan yang berat, tidak adanya pendamping yang berkompeten, sulitnya tantangan yang dihadapi, dan sebagai-nya.
Namun, perasaan-perasaan negatif itu sebenarnya lebih merupakan bayangan semu karena sebelum kita terjun langsung dalam kancah persaingan, kita tidak akan pernah tahu keadaan yang sesungguhnya. Hambatan seperti itu memang seringkali muncul tanpa dikehendaki. Hambatan ini tidak boleh dibiarkan terus-menerus datang mengganggu, tetapi harus diatasi (dihilangkan) jika kita menginginkan prestasi tinggi.
Bentuk hambatan lain yang dapat muncul dari dalam diri sendiri ialah perasaan melihat kemampuan diri yang terlalu tinggi. Kemampuan diri sendiri dinilai begitu besar dan tinggi sehingga apa yang akan dihadapi seolah-olah akan mudah ditaklukkan. Hal ini akan menimbulkan optimisme yang berlebihan, sikap arogan (congkak atau sombong), serta terlalu menganggap remeh orang lain dan tantangan yang akan dihadapi. Perasaan seperti ini jelas menjadi hambatan yang harus dikikis karena tidak akan dapat mendukung terwujudnya prestasi.
Optimisme berlebihan serta mengaggap dan menilai kemampuan diri begitu tinggi dan di atas orang lain biasanya terjadi pada seseorang yang pernah mengenyam prestasi tertentu. Pernah mencapai prestasi tertentu dengan mengalahkan para pesaing menyebabkan munculnya perasaan superior sehingga seolah-olah tidak ada orang yang dapat menandinginya lagi. Apalagi jika prestasi tersebut dapat diraih beberapa kali sekaligus, perasaan superior  itu dapat muncul lebih kuat lagi –– padahal, bisa jadi, masih banyak orang lain yang kemampuan dan prestasinya lebih tinggi tidak mengikuti persaingan yang dimaksud.
2.  Hambatan dari Lingkungan
 Apakah kehidupan di sekeliling kita senantiasa sejalan dengan keinginan kita? Mungkinkah kehidupan di sekitar rumah selalu memberi manfaat bagi upaya kita dalam mencapai sesuatu? Benarkah semua yang ada di dalam rumah kita dapat menolong kita dalam meraih keinginan? Benarkah pula pendidikan yang kita ikuti setiap hari selamanya dapat diandalkan memberi dukungan bagi pencapaian prestasi?
Lingkungan, yakni kehidupan di sekeliling kita, tidak selalu memberi pengaruh positif terhadap upaya meraih prestasi. Lingkungan memang dapat menjadi pendukung pencapaian prestasi. Akan tetapi,  banyak kasus menunjukkan bahwa lingkungan seringkali menjadi sumber datangnya hambatan. Televisi, misalnya, setiap hari menggoda kita untuk terus-menerus menontonnya hingga dapat menjadikan kita lalai untuk belajar dan berlatih. Hiruk-pikuk kehidupan di sekitar rumah dan sekolah juga sering membuat kita sulit untuk fokus dan berkonsentrasi. Bahkan, pendidikan di sekolah yang biasa kita ikuti pun kadang ada yang tidak sesuai dengan upaya menumbuhkan semangat berprestasi.
Rumah, sekolah, dan kampung kadang mendatangkan hambatan yang tidak kita duga. Sikap teman, guru, tetangga, bahkan juga orang tua dan saudara kadang tidak seperti yang diharapkan. Misalnya saja, anak gadis dari kalangan masyarakat adat tertentu kurang mendapat dukungan semestinya dari keluarga untuk meraih prestasi tertentu –– dalam bidang pendidikan, kesenian, olahraga, dan sebagainya –– hanya karena tradisi adat menganggap perempuan lebih pantas berada dan beraktivitas di dapur.
Semua itu adalah hambatan yang datang dari lingkungan. Hambatan dari lingkungan tampaknya akan selalu ada. Hambatan dari lingkungan sangat sulit untuk dihilangkan sepenuhnya karena melibatkan banyak sekali faktor yang berada di luar diri kita. Oleh karena itulah, kita dituntut untuk cerdik menghadapinya. Biarpun sangat sulit untuk dilenyapkan sama sekali, hambatan dari lingkungan dapat dinetralisasi jika kita pandai menghadapinya. Kuncinya adalah kita harus tegas dalam pendirian dan teguh memegang prinsip sehingga tidak mudah terpengaruh oleh keadaan.
Selain itu, kita juga harus pandai meyakinkan bahwa prestasi yang akan kita capai tidak akan mencederai tatanan dan nilai-nilai kehidupan yang berlaku di sekitar kehidupan kita. Sebaliknya, prestasi tersebut justru akan memperkuat tatanan dan nilai-nilai yang dimaksud. Prestasi dalam bidang apa pun, selama itu positif (tidak bertentangan dengan norma), pada hakikatnya tidak akan mengganggu tatanan dan nilai-nilai kehidupan, melainkan akan turut memperkukuhnya serta mengangkat derajat dan mengharumkan nama masyarakat setempat.

Pengertian Potensi dan Jenis Potensi


Sumber: caritugasakademik.blogspot.com

Apakah potensi itu? Dalam bahasa Inggris, potensi disebut potency yang berarti ‘daya’ atau potent  yang berarti ‘keras’ atau ‘kuat’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 890) dijelaskan bahwa potensi adalah kekuatan, kesanggupan, kemampuan, kekuasaan, atau daya yang mengandung kemungkinan untuk dikembangkan.
A. Pengertian Potensi
Dalam kamus yang sama potensi juga diberi pengertian yang lain, yaitu kemampuan-kemampuan dan kualitas-kualitas yang dimiliki atau ada pada diri seseorang, yang belum digunakan secara maksimal. Demikianlah, potensi merupakan kekuatan, kesanggupan, kemampuan, atau daya yang dimiliki seseorang. Namun, kekuatan, kesanggupan, kemampuan, atau daya itu masih menjadi hal yang tersimpan, terpendam, atau tersembunyi. Kekuatan, kesanggupan, kemampuan, atau daya tersebut belum dikembangkan menjadi suatu kecakapan atau keterampilan aktif yang menghasilkan karya atau kinerja.
Potensi seringkali disamakan atau diidentikkan dengan bakat atau pembawaan. Maka tidak jarang dikatakan bahwa orang yang berbakat adalah orang yang potensial, atau orang yang potensial adalah orang yang berbakat. Potensi memang mirip dengan bakat. Akan tetapi, potensi agak berbeda dengan bakat karena bakat pada seseorang biasanya cenderung sudah terlihat tanda-tandanya sejak kecil.
Sebagai kemampuan atau daya yang masih terpendam, potensi perlu untuk dikembangkan. Pengembangan potensi harus dilakukan secara tepat dan optimal agar menjadi kecakapan atau keterampilan (skill). Kecakapan atau keterampilan inilah yang akan menjadi sarana utama untuk meraih prestasi. Apabila kecakapan atau keterampilan sudah terbentuk, usaha meraih prestasi baru dapat dilakukan.
B.  Jenis-Jenis Potensi pada Manusia
Setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi. Dan potensi yang dimiliki masing-masing pribadi berbeda-beda. Ada orang yang memiliki potensi berupa fisik yang kuat dan gesit, ada yang memiliki tangan yang terampil melukis, ada yang punya suara bagus dalam menyanyi, ada yang punya otak encer yang cerdas, ada yang memiliki tangan yang terampil memainkan alat musik, ada yang sepasang kakinya terampil memainkan bola, ada yang imajinasinya kuat sehingga pintar menulis karya fiksi, dan sebagainya. Semua itu ada pada diri manusia, tetapi tidak ada manusia sempurna yang sekaligus memiliki kesemua potensi atau kemampuan itu.
Banyak dan beragamnya potensi pada diri manusia memungkinkan manusia dapat meraih prestasi dalam berbagai bidang dan sektor yang berbeda-beda. Itulah anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Potensi diberikan kepada manusia tidak hanya sekadar untuk mempertahankan hidup secara minimum, melainkan juga untuk meraih prestasi tinggi yang dapat mengantarkan manusia pada kemajuan-kemajuan hidup maksimum demi harkat dan martabatnya.
Potensi yang dimiliki manusia sendiri dapat dikelompokkan menjadi lima jenis. Kelimanya masing-masing adalah potensi fisik (psychomotoric), potensi mental intelektual (intellectual quotient), potensi mental spiritual (spiritual quotient), potensi sosial emosional (emotional quotient), dan potensi ketahanan mental (adversity quotient). Penjelasan dari kelima jenis potensi tersebut adalah sebagai berikut.
  • Potensi fisik (psychomotoric) adalah potensi yang dimiliki manusia dalam wujud organ fisik yang dapat digunakan dan diberdayakan manusia untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup (dalam arti luas). Potensi fisik dapat dikembangkan menjadi berbagai keterampilan atau kecakapan gerak, seperti olahraga, membuat kerajinan tangan, melukis, bermain musik, dan menari.
  • Potensi mental intelektual (intellectual quotient) adalah potensi yang dimiliki manusia dalam wujud kecerdasan otak (terutama pada otak sebelah kiri). Potensi mental intelektual dapat dikembangkan menjadi kecakapan untuk menghitung, menganalisis, merencanakan, dan sebagainya.
  • Potensi mental spiritual (spiritual quotient) ialah potensi yang dimiliki manusia dalam bentuk kecerdasan untuk berbuat kearifan. Melalui potensi mental spiritual, manusia dapat menjadi pribadi yang utuh secara intelektual, emosional, dan spiritual. Potensi ini bisa dikembangkan menjadi kecakapan religius yang  membuat manusia beriman, bertakwa, serta berbuat baik terhadap sesama dan lingkungan.
  • Potensi sosial emosional (emotional quotient) adalah potensi yang terdapat pada manusia dalam bentuk kecerdasan otak (terutama pada otak sebelah kanan). Potensi ini dapat dikembangkan menjadi kecakapan untuk mengendalikan emosi, motivasi, amarah, tanggung jawab, kesadaran diri, dan sebagainya.
  • Potensi ketahanan mental (adversity quotient) adalah potensi yang ada pada diri manusia dalam wujud kecerdasan untuk melakukan atau menghadapi keadaan secara ulet, tangguh, dan berdaya juang tinggi. Potensi ini merupakan salah satu faktor penentu teraihnya prestasi dan sukses karena menjadikan manusia mampu menghadapi berbagai hambatan dan kesulitan dengan baik. Dengan potensi ini seseorang akan mampu mengubah berbagai tantangan dan rintangan menjadi peluang.