Wednesday, January 17, 2018

Harry Edward Kane

Sumber: 4.pictures.zimbio.com, standard.co.uk, blog.livefootballtickets.com

Sebagai negara yang memiliki tradisi sepak bola yang panjang, Inggris rutin menyumbangkan pemain-pemain bertalenta besar dalam meramaikan gelanggang sepak bola internasional. Dengan kompetisi liganya yang dipenuhi pemain-pemain kelas dunia, Inggris mampu melahirkan bintang-bintang yang kompetitif di daratan Eropa dan dunia. Setelah kemunculan bintang-bintang masa lalu, seperti Stanley Matthews, Duncan Edwards, Bobby Moore, Bobby Charlton, Geoff Hurst, Gordon Banks, Kevin Keegan, Glenn Hoddle, Christ Waddle, John Barnes, Bryan Robson, Gary Lineker, Paul Gascoigne, Steve McManaman, Alan Shearer, David Beckham, dan Steven Gerrard, kini negeri Ratu Elisabeth memiliki pemain-pemain muda berbakat yang siap meneruskan kebintangan para pendahulunya.
Salah satu pemain muda yang menonjol adalah Harry Kane. Dalam waktu sekitar empat tahun terakhir, Harry Kane menjadi pemain muda yang menyedot perhatian para penggemar dan pengamat sepak bola di Inggris dan Eropa. Permainannya yang mengesankan di Premier League (Liga Primer Inggris) juga membuat klub-klub besar Eropa mengincarnya untuk direkrut.
Harry Edward Kane lahir di Chingford, Inggris, pada 28 Juli 1993. Kane tumbuh sebagai seorang pencinta sepak bola. Saat masih kecil, Kane merupakan penggemar berat Arsenal sehingga sempat menjadi siswa akademi sepak bola klub yang mendapat julukan Meriam London tersebut. Namun, Kane kemudian pindah ke akademi sepak bola Tottenham Hotspur (tahun 2004) serta sukses menembus tim senior lima tahun kemudian. Namun, Kane tidak langsung mendapat kesempatan bermain untuk Spurs. Dia lebih dahulu menjalani masa peminjaman ke klub lain, yakni Leyton Orient, Millwall, Norwich City, dan Leicester City.
Sebelum dipinjamkan ke klub Iain, pada tahun 2009--2011 Kane merumput bersama Spurs dalam 48 pertandingan dengan mencetak 24 gol. Dalam masa peminjaman, ia bermain untuk Leyton Orient sebanyak 18 kali dengan melesakkan 5 gol (2011), kemudian bermain untuk Millwall dalam 22 partai dengan catatan 7 gol (2012), hanya tampil 3 kali tanpa mencetak gol untuk Norwich City (2012-2013), serta tampil 13 kali bersama Leicester City dengan mencetak 2 gol (2013).
Sejak junior (remaja), Kane juga sudah langganan membela tim nasional Inggris. Pada tahun 2010 ia direkrut masuk tim nasional Inggris U-17 dengan catatan 3 kali tampil dan mencetak 2 gol. Berturut-turut ia bermain untuk tim nasional U-19 sebanyak 14 kali dengan torehan 6 gol (2010—2012), tampil bersama tim nasional U-20 sebanyak 3 kali dengan mengukir  1 gol, serta berlaga untuk tim nasional U-21 sebanyak 10 kali dengan mencetak 8 gol.
Kane menjalani debut di tim nasonal senior pada Maret 2015 dengan gemilang saat Inggris menggilas Lithuania dengan skor 4-0. Ia mencetak gol 80 detik setelah diturunkan oleh pelatih ke lapangan. Sejauh ini Kane sudah mencetak 11 gol untuk tim nasional  senior. Torehan gol ini masih jauh di bawah pencapaian Wayne Rooney yang selama kariernya bersama tim nasional Inggris telah mencetak 53 gol. Namun, karier Kane di tim nasional jelas masih panjang (karena usianya baru 24 tahun) sehingga ia memiliki peluang besar untuk melampaui catatan Rooney.
Pada penampilannya yang ke-20 bersama tim nasional, Kane sudah mampu mencetak 10 gol. Prestasi ini mengalahkan catatan gol internasional dari beberapa pemain besar dan bintang dunia untuk tim nasionalnya masing-masing. Lihatlah catatan ini: Zlatan Ibrahimovic mencetak golnya yang ke-10 untuk Swedia setelah menjalani 28 pertandingan, Cristiano Ronaldo membuat golnya yang ke-10 untuk Portugal setelah melakukan 30 pertandingan, dan bahkan Lionel Messi melakukan hal yang sama untuk Argentina setelah melewati 33 pertandingan.
Setelah kembali ke Spurs sebagai pemain reguler, Kane memperlihatkan diri sebagai salah satu pemain pribumi (asli Inggris) yang paling produktif dan berbahaya di Liga Primer. Setidaknya dalam tiga musim terakhir (2014—2017), ia masuk dalam deretan striker yang paling tajam dan ditakuti oleh kiper-kiper lawan. Kontrol, dribling, pergerakan, dan kecepatannya dalam mengolah bola menjadi gol sangat sulit dihentikan oleh para pemain belakang dan kiper lawan.
Dalam satu tahun terakhir ini, Kane bahkan menjadi pemain yang paling tajam dan paling produktif (mencetak gol) di seluruh Eropa. Pada tahun 2017 lalu, dalam urusan menjebol gawang lawan, Kane tidak hanya mengalahkan para jagoan pencetak gol di Liga Primer, seperti Mohamed Salah (Liverpool), Sergio Aguero (Manchester City), dan Romero Lukaku (Manchester United), melainkan juga menumbangkan dua pemain terbaik dunia dari La Liga (Liga Spanyol), Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo. Selama tahun 2017, Kane mencetak 56 gol dalam 52 kali penampilan bersama Spurs dan tim nasional Inggris di semua pertandingan dan kompetisi. Kane sukses mengalahkan Messi (54 gol), Ronaldo (53 gol), Robert Lewandowski (53 gol), dan Edinson Cavani (53 gol).
2017 menjadi tahun yang istimewa dalam karier sepak bola Kane. Pada tahun itu, ketajamannya dalam mencetak gol berhasil mengakhiri hegemoni Messi dan Ronaldo. Dalam kurun waktu tujuh tahun sebelumnya (2010--2016), Messi dan Ronaldo secara bergiliran menjadi pencetak gol tersubur di Eropa. Messi menjadi pemain paling produktif untuk tahun 2010 (60 gol), 2012 (91 gol), dan 2016 (59 gol), sedangkan Ronaldo menjadi pemain paling tajam untuk tahun 2011 (60 gol), 2013 (69 gol), 2014 (61 gol), dan 2015 (57 gol). Memasuki tahun 2017, Kane sukses memutus rantai dominasi Messi dan Ronaldo dengan mengalahkan keduanya melalui catatan 56 gol.
Prestasi Kane yang melampaui Messi dan Ronaldo dalam rekor membuat gol menunjukkan kemampuannya yang tinggi sebagai pemain. Ia telah menjadi “mesin” penghasil gol yang membuat tim yang dibelanya menjadi kompetitif serta sekaligus menakutkan tim-tim lawan. Kane memiliki skill bermain yang mantap serta mempunyai kecepatan, kejelian, dan naluri mencetak gol yang luar biasa. Ia membuktikan diri tidak hanya mampu bersaing dengan bintang-bintang asing di Liga Primer, melainkan juga dengan dua pemain terbaik dunia (Messi dan Ronaldo) yang dalam satu dasawarsa terakhir merajai gelanggang sepak bola Eropa dan dunia.
Dalam satu tahun terakhir (2017), Kane juga menunjukkan diri sebagai pemain yang mampu mencetak gol dalam setiap pertandingan yang dijalaninya, baik di klub maupun di tim nasional. Dengan mencetak 56 gol dalam 52 laga yang dilakukannya (selama 2017), berarti Kane mampu membuat 1,08 gol dalam setiap laga. Artinya, jika dirata-rata, Kane selalu mencetak gol dalam setiap pertandingan yang ia lakoni selama tahun 2017 lalu.
Jika gol-gol Kane diperinci ke dalam beberapa pertandingan, ia telah mencetak banyak hat-trick dan gol-gol penting dalam pertandingan krusial yang menentukan. Misalnya, pada pertandingan Inggris-Slovenia dalam kualifikasi Piala Dunia 2018 pada 6 Oktober 2017 yang berakhir 1-0 untuk kemenangan Inggris, Kane mencetak satu-satunya gol kemenangan Inggris itu sekaligus menentukan kelolosan tim The Three Lions  ke Piala Dunia 2018 di Rusia. Kane juga mencetak hat-trick saat Spurs menggulung Southampton 5-2 dalam lanjutan pertandingan Liga Primer 26 Desember 2017 (Boxing Day) — hasil ini mendongkrak Spurs ke urutan empat klasemen dengan menggeser posisi Liverpool.
Tiga gol yang dibuat Kane dalam laga Spurs-Southampton itu melengkapi enam hat-trick yang sudah ia cetak selama tahun 2017 di Liga Primer. Kane menjadi pemain pertama dalam sejarah Liga Primer yang membuat enam kali  hat-trick dalam satu tahun kalender (2017).  Hat-trick itu juga melengkapi koleksi gol pemain yang memiliki tinggi badan 188 cm ini menjadi 39 gol dari 36 laga di Liga Primer selama satu tahun kalender yang sekaligus memecahkan rekor gol Alan Shearer yang dicetak pada tahun kalender 1995 (36 gol).
Pencapaian tinggi Kane mengundang banyak pujian. “Ia pantas mendapatkan pencapaian ini. Ia tidak hanya berbakat, tetapi juga pemain yang sangat profesional. .... Ia panutan yang bagus untuk semua pemain,” kata pelatih Spurs, Mauricio Pochettino. “Kita sudah melihatnya berkembang setelah 3,5 tahun di klub ini. Itu membuat kami sangat bangga dan saya amat gembira dengan seluruh pencapaiannya sejauh ini,” lanjut Pochettino. “Kami sangat senang dengan dia karena di setiap kompetisi dia berhasil mencetak gol. Penampilannya sungguh bagus dan mengamankan tiga poin yang sangat penting untuk kami. .... Harry Kane adalah pemain fantastis, salah satu striker terbaik, sulit menemukan kata-kata untuk menjelaskannya. Dia luar biasa ....
“Ia merupakan penyerang tengah yang komplet, ia melakukan segalanya. Ia mencetak gol dengan kepala, menjadi ujung tombak, serta menembak dengan kaki kiri dan kanan,” kata Darren Anderton, mantan pemain Spurs dan tim nasional Inggris. “Ia bekerja keras untuk tim, jika diperlukan ia akan masuk ke sektor antarlini. Ia tak gentar berhadapan dengan bek tengah mana saja, ia tangguh, ...,” tambah Anderton.
Rekan Kane di tim nasional Inggris, Phil Jones, berharap Kane dapat menumbangkan rekor Wayne Rooney sebagai pencetak gol terbanyak bagi tim nasional Inggris. Harapan Jones diutarakan usai Kane mencetak dua gol untuk The Three Lions dalam partai melawan Malta yang berkesudahan 4-0 untuk kemenangan Inggris pada kualifikasi Piala Dunia 2018. Dua gol ini merupakan gol ke-10 Kane di ajang internasional bersama tim nasional Inggris. Jones yakin bahwa Kane akan segera melampaui rekor gol milik Wayne Rooney. Rooney yang telah mengumumkan pengunduran dirinya dari tim nasional Inggris merupakan pencetak gol terbanyak The Three Lions dengan jumlah 53 gol dalam 119 pertandingan.
 “Harry (Kane) akan menempatkan dirinya di atas catatan Wayne sebagai pemegang rekor dan akan menjadi ancaman untuknya tanpa sedikit pun keraguan,” tutur Jones.  “Dia (Kane) memiliki semua kemampuan sebagai salah satu striker terbaik di dunia untuk bersaing di level yang dipegang Wayne Rooney. Jika dia tetap fit dan terus tampil di klubnya, dia akan mencetak lebih banyak gol untuk negaranya,” lanjut Jones. “Harry adalah pemain dengan bakat yang luar biasa. Dia adalah pemain berbakat; mencetak gol dengan kedua kakinya dan dengan kepalanya. Dia memiliki gerakan yang hebat dan kuat. Ini adalah prestasi yang sangat istimewa untuk mencetak 10 gol lebih cepat dari Wayne dan semua pemain hebat lainnya.”
Menurut Emmanuel Eboue, mantan back Arsenal, Harry Kane memiliki kemiripan dengan striker Bayern Munchen, Robert Lewandowski. “Tahun ini Harry Kane benar-benar luar biasa. Dia seperti Lewandowski. Keduanya mirip. Dari mana pun dia menembak, selalu terjadi gol. Dia tetap konsisten. Semua yang ia lakukan di atas lapangan menjadi gol. Anda harus berhati-hati menghadapi striker seperti dia,” tutur Eboue.
Permainan impresif Kane menyebabkan banyak klub besar tertarik merekrutnya. Salah satu klub elite yang diberitakan media sangat berminat terhadapnya adalah Real Madrid. Laporan media menyebut bahwa Los Blancos akan berusaha merekrut Kane pada musim panas 2018. Tentang Kane, pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, mengatakan, “Kane pemain yang fundamental bagi Tottenham, dia sangat bagus dalam setiap aspek, tetapi hal terbaik tentang dia adalah dia selalu memikirkan cara mencetak gol,” ucap Zidane. “Ia selalu mencari ruang dan itu sangat bagus. Ia striker yang sempurna.”
Pujian untuk Kane juga datang dari mantan bintang Tottenham Hotspurs dan tim nasional Inggris, Teddy Sheringham. “Kane memiliki semua hal yang pernah saya punya, bahkan lebih. Ia juga memiliki kemampuan seperti Alan Shearer,” kata Sheringham. “Menurut saya, Harry Kane adalah seorang striker dengan kemampuan yang lengkap.”
Mantan bintang Inter Milan, Bayern Munchen, dan tim nasional Jerman, Lothar Mathaeus, turut menyampaikan kekagumannya terhadap Kane. Menurut Mathaeus, Kane tidak akan mengalami kesulitan seandainya bermain untuk Real Madrid atau Barcelona. “Saya benar-benar menyukai dia. Jika saya seorang pelatih dan memiliki uang, saya akan mendatangkan dirinya. Satu-satunya pemain di posisinya yang lebih saya kagumi adalah Robert Lewandowski,” kata Mathaeus. “Ia paham bagaimana caranya mencetak gol dalam setiap pertandingan yang ia mainkan.”
Seusai tim asuhannya dihantam Tottenham Hotspur 3-1 dari dalam lanjutan Liga Champions, pelatih Borussia Dortmund, Peter Bosz, tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya terhadap Kane. Dalam laga itu, Kane mencetak dua gol serta turut berperan atas terciptanya satu gol lainnya. “Kami kalah dari seorang penyerang bernama Kane. Dia adalah pemain berkualitas. Kuat dan saya rasa memang kuat. Dia bisa memenangi duel dengan lawan yang mengawalnya. Tetapi, kami memang sudah mengetahui Kane bakal berbahaya dan itu terbukti,” kata Bosz.
Bagi pelatih asal Jerman lainnya, Juergen Klopp, Kane tidak hanya salah satu striker terbaik di Eropa, melainkan juga salah satu yang terbaik di dunia. Adapun mantan bintang Manchester United dan Real Madrid asal Belanda, Ruud Van Nistelrooy, mengatakan, “Harry Kane terlihat seperti seorang profesional hebat, seseorang yang bekerja keras untuk memaksimalkan kemampuannya. Dia menunjukkan hal itu di lapangan. Saya pikir untuk Spurs dia adalah pemain hebat, seorang pemimpin juga. Itu juga berlaku untuk Inggris. Ia adalah pencetak gol yang hebat.”
Rekan Kane di tim nasional Inggris, Adam Lallana, percaya bahwa Harry Kane adalah salah satu pemain terbaik di dunia. “Saya sangat senang dengan Harry,” kata gelandang serang Liverpool tersebut. “Saya sangat terkesan dengannya setelah bermain melawannya di Tottenham dan bermain bersamanya untuk (tim nasional) Inggris.” Menurut Lallana, oleh karena kemampuannya bermain, Kane pantas menjadi kapten tim nasional Inggris. Jika Kane terpilih menjadi kapten, merupkan kehormatan bagi Lallana jika ia ikut menjadi anggota tim dan berjalan di belakang Kane. 

Paul Labile Pogba

Sumber: www.thesun.co.uk, premierleague-static-files.s3.
amazonaws.com, ansa.it

Sejak kemunculan Zinedine Zidane pada akhir dasawarsa 1990-an, Prancis masih terus menghasilkan pemain-pemain sepak bola potensial. Setelah Zidane dengan bakatnya yang istimewa mampu menjadi pemain terpenting yang membawa Prancis menjadi juara dunia 1998 (World Cup 1998) dan juara Eropa 2000, muncul beberapa bintang baru yang diharapkan mampu mewarisi kehebatan Zidane dan kawan-kawan  (Lizarazu, Deschamps, Desailly, Thuram, dan lain-lain) dalam mengangkat nama Prancis di kancah sepak bola Eropa dan dunia. Beberapa nama mencuat dan menjadi buah bibir karena mampu bermain cemerlang di klub-klub besar Eropa.
Salah satunya adalah Paul Pogba. Pemain ini banyak dibicarakan oleh insan sepak bola Eropa tidak hanya karena nilai transfernya yang fenomenal (dari Juventus ke Manchester United), melainkan juga terutama karena permainannya yang impresif. Terlepas dari permainannya yang kini belum berkembang optimal di Manchester United, selama di Juventus, Pogba mampu bermain mengesankan dan mengantarkan tim dari Turin itu merebut gelar-gelar penting.
Sebagai pemain Prancis, Pogba mungkin memang belum mampu menyejajarkan diri dengan Platini dan Zidane (yang pada masa keemasannya juga bermain untuk Juventus) dalam mengantarkan Tim Zebra atau si Nyonya Tua ke puncak level sepak bola Eropa dan dunia. Namun, hal ini tampaknya lebih dominan disebabkan oleh usianya yang masih muda saat ia membela Juventus. Pogba dapat dikatakan masih dalam taraf perkembangan ketika ia bermain untuk Juventus dari tahun 2012 hingga 2016 saat usianya masih 21-24 tahun (tetapi, ia sudah mampu memperlihatkan skill dan wawasan bermain yang sangat mengesankan).
Kembalinya Pogba dari Juventus ke Manchester United menjadi penanda kebintangannya sebagai pemain sepak bola kelas dunia. Ia hijrah ke klub legendaris Inggris tersebut dengan nilai transfer sekitar 1,5 triliun rupiah, rekor tertinggi dalam sejarah transfer pemain sebelum dipecahkan oleh nilai transfer Neymar dari Barcelona ke Paris Saint-Germain yang 3,5 triliun rupiah. Nilai transfer 1,5 triliun rupiah menjadi bukti pengakuan atas kemampuan dan kebintangan Pogba.
Sebelum dibeli Juventus, Pogba adalah pemain Manchester United pada era pelatih Alex Ferguson. Dalam status bukan sebagai pemain inti MU, ia direkrut Juventus pada tahun 2012. Sejak bergabung dengan Juventus itulah ia menunjukkan sinarnya sebagai pemain bertalenta yang turut berperan penting melambungkan Juventus ke level elite sepak bola Eropa. Selama empat musim merumput bersama Juventus penampilannya terus menanjak sehingga memikat Manchester United untuk menariknya kembali dengan nilai transfer yang fantastis.
Pogba yang memiliki nama lengkap Paul Labile Pogba, lahir di Lagna-sur-Marne, Prancis, pada 15 Maret 1993. Pogba mengawali kiprah sepak bolanya pada usia 6 tahun dengan bergabung bersama klub lokal, Roissy-en-Brie (tahun 1999). Di klub tak terkenal ini, ia bertahan hingga tahun 2006 untuk kemudian hijrah ke Torcy (2006-2007). Dari Torcy, ia pindah ke klub anggota liga utama Prancis (Ligue 1), Le Havre.
Di Le Havre ia mulai menunjukkan bakat dan kepemimpinannya. Pogba bermain untuk Le Havre selama dua musim (2007-2009). Pada tahun keduanya, ia dipercaya menjadi kapten tim U-16 Le Havre. Ia sukses membawa Le Havre mengungguli tim-tim elite dan tangguh, seperti Lyon dan Nancy, serta merengkuh peringkat kedua di bawah Lens.
Talenta yang ditunjukkannya selama membela Le Havre tercium oleh klub-klub besar dan terkemuka Eropa. Pada tahun 2009, Manchester United merekrut dan memasukkan Pogba ke akademi sepak bola milik klub dari Kota Manchester ini.  Keberadaan Pogba di akademi Setan Merah kurang berkembang maksimal karena kurang mendapatkan kesempatan bermain di tim MU --- ia hanya sempat tampil tiga kali tampil di bawah Alex Ferguson.
Hal itu menyebabkan Pogba yang memiliki tinggi badan 191 cm hijrah ke Juventus pada tahun 2012. Di klub yang mendapat julukan Nyonya Tua ini, permainan Pogba berkembang sangat pesat berkat sentuhan pelatih dan kesempatan bermain yang luas. Ia sering sekali menjadi starter selama Juventus berada di bawah asuhan pelatih Massimiliano Allegri. Allegri bahkan menjadikan Pogba sebagai salah satu pemain andalan Juventus, selain Buffon, Pirlo, Vidal, Bonucci, Chiellini, Tevez, Higuain, dan Dybala.
Teknik dan visi permainan Pogba di Juventus terus berkembang hingga akhirnya ia mencuat menjadi bintang. Berkat permainan cemerlangnya, Juventus meraih empat kali juara Seri A Italia serta dua kali runner-up Liga Champions (2014-2015 dan 2016-2017). Bersama Juventus ia sudah mencatat statistik 178 kali bermain dengan mencetak 34 gol.
Penampilan cemerlang Pogba bersama Juventus membuat banyak klub besar dan terkemuka Eropa mengincarnya. Manchester United mungkin menjadi klub yang paling “kecewa dan menyesal” dengan perubahan positif dan revolusioner yang dialami Pogba sebab klub yang melahirkan Cristiano Ronaldo ini pernah menyia-nyiakan dan “membuang” Pogba ke Juventus. MU pun akhirnya harus membayar mahal kesalahannya itu dengan menebus kembali Pogba dengan harga yang sungguh-sungguh sangat mahal --- manajemen MU harus mengeluarkan biaya 1,5 triliun rupiah untuk menariknya kembali dari Juventus.
Sempat bemain datar pada awal kehadirannya di MU serta didera pula cedera agak lama, Pogba kini mulai menemukan kembali form permainan terbaiknya. Di bawah tangan dingin Mourinho, ia menjelma menjadi salah satu bintang yang menonjol di Liga Primer Inggris yang penuh persaingan. Kebintangannya seperti saat merumput bersama Juventus mulai terlihat lagi serta dengan dukungan pemain-pemain berkualitas, seperti Ibrahimovic, Matic, Herera, Martial, Rashford, Lukaku, dan Carrick, permainannya terus menanjak.
Perlahan-lahan Pogba sudah mulai mampu membebaskan diri dari beban berat sebagai pemain yang pernah menyandang predikat termahal di dunia. Ia sudah mulai mampu bermain lepas dan enjoy sehingga kemampuannya melakukan dribble, mencetak gol, memberi assist, dan membaca permainan mulai terlihat kembali. Beberapa kali ia menjadi aktor utama dan inspirator kemenangan MU, seperti saat MU menjungkalkan Newcastle United dengan skor 4-1 di Liga Primer serta mengalahkan Ajax 2-0 dalam final Liga Europa.
Data statistik dari BBC Sport yang diambil pada musim 2016/2017menunjukkan bahwa kinerja dan produktivitas MU kian meningkat jika Pogba ikut turun bertanding. Menurut catatan BBC Sport, dari 33 pertandingan yang dijalani MU bersama Pogba, MU sukses memenangkan 19 pertandingan, mencetak 57 gol, dan mengantongi 57,6 persen kemenangan. Namun, dari 16 pertandingan MU tanpa Pogba, Setan Merah hanya mampu memenangkan 6 pertandingan, mencetak 20 gol, dan hanya memiliki 37,5 persen kemenangan. Hal ini menunjukkan, kehadiran Pogba memberi kontribusi positif bagi permainan MU.
Di tim nasional Prancis, Pogba juga memiliki peran yang tidak kecil. Sejak tahun 2008-2009, Pogba sudah masuk tim nasional Prancis U-16, kemudian berturut-turut pada tahun 2010, 2010-2011, 2011-2012, dan 2012-2013, ia menjadi salah satu pemain andalan tim Les Blues U-17, U-18,    U-19, dan U-20. Dalam Piala Dunia U-20 tahun 2013, Pogba yang dipercaya menjadi kapten Prancis sukses mengantarkan Les Blues menjadi juara.
Sejak tahun 2013 pula, berkat permainannya yang mengesankan, Pogba direkrut pelatih Didier Deschamps masuk tim nasional senior Prancis. Ia menjalani debut untuk tim nasional senior pada tanggal 22 Maret 2013 dalam partai Prancis-Georgia yang dimenangkan Prancis dengan skor 3-1. Sejak itu pemain yang biasa beroperasi sebagai gelandang serang ini malang melintang di tim Prancis. Ia menjadi salah satu pemain penting yang turut mengantarkan Prancis lolos mulus ke Piala Dunia 2018 di Rusia.
Dengan kemampuannya saat ini, Pogba memiliki peluang untuk menjadi penerus Messi dan Ronaldo sebagai pemain terbaik dunia. Jika mampu menjaga konsistensi, meningkatkan peranannya dalam tim, serta membawa tim yang dibelanya meraih gelar-gelar level tertinggi di setiap kategori (liga domestik, Liga Champions, dan juara dunia antarklub), ia bisa menyejajarkan diri dengan Messi dan Ronaldo. Baik bersama MU maupun tim nasional Prancis, Pogba memiliki modal yang potensial untuk meraih gelar-gelar penting guna mewarisi prestasi Messi dan Ronaldo.
Di MU Pogba bermain bersama pemain-pemain kelas wahid dengan pelatih
“Special One” Mourinho sehingga memiliki peluang besar untuk menjuarai Liga Primer Inggris, Liga Champions, dan juara dunia antarklub. Adapun di tim nasional Prancis, ia juga mendapat dukungan pemain-pemain bertalenta unggul, seperti Mbappe, Kante, Greizmann, Dembele, dan Mattuidi, sehingga berpeluang besar mejuarai Piala Eropa dan bahkan Piala Dunia. Dengan didukung oleh visi dan kepemimpinannya dalam bermain, baik di klub maupun di tim nasional negaranya, Pogba memiliki potensi untuk menyamai dan bahkan melampaui prestasi yang diukir Messi dan Ronaldo.
Sebagai catatan penting, Messi dan Ronaldo masing-masing memang sudah meraih penghargaan Ballon d’Or sebanyak lima kali dan beberapa kali membawa klubnya menjuarai liga domestik dan Liga Champions, tetapi hingga saat ini mereka belum mampu membawa tim nasional negaranya masing-masing (Argentina dan Portugal) meraih trofi paling prestisius dan memiliki level tertinggi dalam olahraga sepak bola, yakni Piala Dunia (World Cup). Dengan usianya yang sekarang, Messi (30 tahun) dan Ronaldo (32 tahun) tampaknya hanya tinggal memiliki satu kesempatan untuk merebut Piala Dunia, yakni dalam hajatan Piala Dunia 2018 di Rusia. Namun, dalam usianya yang kini baru 24 tahun, Pogba setidaknya masih memiliki tiga kesempatan untuk meraih Piala Dunia bersama Prancis (2018, 2022, dan 2026) sehingga ia memiliki peluang besar untuk mengungguli Messi dan Ronaldo dalam meraih prestasi tinggi di ajang kompetisi sepak bola terbesar, tertinggi, dan terpenting itu.
Pogba memiliki tinggi tubuh 191 cm. Dengan tubuhnya yang menjulang, ia unggul dalam duel bola-bola atas. Namun, dengan kakinya yang panjang, ia juga sangat terampil dalam melakukan dribble, tackle, dan merebut bola dari kaki lawan. Di Manchester United, ia dideskripsikan sebagai pemain yang kuat, terampil, dan kreatif. Kakinya yang panjang tampak seperti tentakel saat berlari serta melakukan dribble dan tackle sehingga selama di Juventus ia memperoleh julukan Il Polpo (si Gurita).
Saat kembali bergabung dengan MU, Pogba mengatakan, “Ini adalah klub yang tepat bagi saya untuk mencapai segala sesuatu yang saya harapkan.” Adapun Manajer-pelatih MU, Jose Mourinho, menyatakan, Pogba dapat menjadi “jantung tim” untuk dekade berikutnya.  Mourinho mengatakan, “Dia (Pogba) memengaruhi gaya bermain kami. Kita semua tahu, saya dan pemain lainnya bahwa beberapa pemain tertentu dapat memengaruhi level bermain tim. Bersama Pogba, kami punya kreasi (bermain) lebih banyak lagi. Saya sangat bahagia.” Menurut Mourinho, Pogba berada di kelas yang berbeda dengan gelandang MU lainnya.
Massimiliano Allegri, yang pernah melatih Pogba di Juventus memuji Pogba sebagai pemain yang berpeluang menjadi gelandang yang unggul. “Pogba punya permainan yang luar biasa, tetapi dia punya kualitas untuk melakukan yang lebih baik dari itu. Dia juga bisa menjadi gelandang terkuat di dunia,” ujar Allegri. “Dia bergerak dengan tempo yang pas dalam menyerang dan bertahan.”
Di tengah persaingan para gelandang cemerlang dalam kompetisi Seri A Italia, Pogba dinilai pelatih tim nasional Italia, Cesare Prandelli, sebagai gelandang terbaik di dunia. Pogba sudah menunjukan kemampuannya sebagai salah satu pemain bintang Serie A. Prandelli merasa beruntung dapat menyaksikan langsung aksi-aksi Pogba di Serie A bersama Juventus.
Prandelli menyebutkan, Pogba punya kemampuan yang berkelas sebagai gelandang.”Dapat saya katakan, Pogba adalah gelandang terbaik di dunia. Dia bisa bermain di beberapa posisi serta memiliki kemampuan fisik dan teknik yang luar biasa,” ungkap Prandelli seperti diberitakan L'Equipe. “Dia tahu kapan harus berada di posisi penting dan bagaimana bisa membuat masalah di daerah lawan. Selain itu, Pogba juga memiliki karakter yang sangat kuat sebagai pemain,” lanjut mantan pelatih Fiorentina ini.
Di Liga Inggris, Pogba juga mampu merebut perhatian dan pujian. Ia mengawali kehadirannya kembali di Liga Primer dengan penampilan yang datar dan lamban akibat mengalami beban psikologis sebagai pemain termahal di dunia (sebelum rekornya dipecahkan Neymar) serta sempat pula dibekap cedera selama sekitar dua bulan. Namun, setelah pulih dari cedera, ia mampu menemuklan kembali bentuk permainan terbaiknya.
Koleganya di MU dan tim nasional Prancis, Anthony Martial, memuji Pogba sebagai salah satu gelandang terbaik di dunia. “Paul adalah pemain yang memiliki mental kuat dan dia yakin kepada diri sendiri. Dia pria besar, dia memiliki teknik yang bagus dan memiliki daya tahan yang baik.  Dapat saya katakan bahwa dia merupakan salah satu gelandang terbaik di dunia,” ujar Martial kepada situs resmi MU. “Dia masih muda; jadi dia harus banyak bekerja dan dia bisa menjadi lebih baik. Anda dapat melihat bahwa dia tetaplah Pogba yang sama. Dia lucu, selalu tersenyum, dia bukan orang yang terlalu serius. Saya selalu melihatnya tertawa dan dia adalah teman baik saya. Dia adalah pribadi yang sama di dalam dan di luar lapangan. Dia akan terus seperti ini,” kata Martial menambahkan.
Martial berharap dapat meraih banyak gelar bersama Pogba. Selain meraih banyak gelar bersama United, Martial berambisi dapat meraih Piala Dunia untuk Prancis bersama Pogba. Striker yang mendapat julukan sebagai supersub ini optimis Pogba akan terus mempertahankan permainan cemerlangnya sehingga dapat meraih gelar pemain terbaik di dunia. “Kami ingin memenangkan banyak piala bersama di United dan kami juga ingin sekali meraih Piala Dunia untuk Prancis. Jika dia melanjutkan permainannya dan memperbaiki kekurangannya, saya pikir dia bisa memenangkan Ballon d’Or lima tahun mendatang,” harap Martial.
Gelandang lain MU asal Spanyol, Ander Herrera. memuji Pogba sebagai salah satu pemain terbaik di dunia. “Saya pikir dia pemain top, mungkin juga sebagai salah satu dari lima pemain terbaik di dunia. Dia dapat merebut bola, melakukan tendangan akurat, menggiring bola, serta bertahan dengan baik; dia memiliki segalanya. Kami sangat beruntung karena kami memiliki dia,” puji Herrera. “Ketika Anda berpikir tentang pemain terbaik di dunia, mereka sangat bagus tetapi mungkin mereka sangat baik pada hal-hal tertentu. Namun, Paul sangat bagus dalam segala hal; jadi kami akan menikmati tampil bersamanya,” lanjut Herrera.
Kegemilangan Pogba juga menarik perhatian Neville, mantan kapten MU. “Pogba adalah seorang pemain yang memiliki karakter dan kepribadian di lapangan. Ia juga selalu tampil percaya diri,” kata Neville seperti dilansir BolaSport.com dari SkySports.com. Neville menyebut Pogba telah menebus “dosa” musim lalu saat ia dianggap tampil kurang bagus dan tidak mencerminkan harga 105 juta euro (Rp 1,5 triliun) yang ditebus United untuk memulangkannya dari Juventus. “Selama satu tahun, Pogba terbebani oleh harga mahal dan ekspektasi tentang bagaimana harus tampil," ujar mantan kapten tim beralias Setan Merah tersebut.
Pujian dan kritik datang dari mantan pelatih Real Madrid dan Liverpool, Rafael Benitez. Benitez mengakui kehebatan Pogba sebagai pemain. Benitez membandingkan Pogba dengan Steven Gerrard, mantan bintang Liverpool dan tim nasional Inggris. “Mereka berbeda. Stevie adalah pemain top selama bertahun-tahun. Ia sangat konsisten dan bisa membuat perbedaan di setiap pertandingan, dengan atau tanpa bola. Ia adalah pemain top. Pogba juga pemain hebat, tetapi ia masih harus konsisten seperti Stevie untuk 10 sampai 15 tahun,” kata Benitez.
Pelatih tim nasional Prancis, Didier Deschamps, menilai Pogba sebagai gelandang tengah yang punya kemampuan lengkap. “Paul menunjukkan penampilan terbaiknya. Para pemain besar tampil di sejumlah pertandingan besar,” kata Blaise Matuidi, rekan Pogba di tim nasional Prancis. “Prancis tampil sebagai tim yang baik dengan sederet pemain yang cemerlang; salah satu di antaranya Pogba,” ujar Fernandinho, gelandang tim nasional Brasil dan Manchester City.
Pemain bintang, Neymar, bahkan turut menyatakan kekagumannya pada Pogba. Saat masih bermain untuk Barcelona, Neymar menyatakan minatnya untuk bermain bersama Pogba membela El Barca. Neymar mengaku mengagumi Pogba serta berharap dapat berduet dengan pemain jangkung Prancis itu di Barcelona.
Bersama Neymar dan beberapa pemain muda menonjol lain, Pogba saat ini dinilai berada di lapisan kedua setelah Messi dan Ronaldo (yang berada di lapisan pertama) sebagai pemain terbaik dunia. Pogba yang mengidolakan Ronaldo de Lima (Brasil) dan Zidane memiliki usia hampir sama dengan Neymar. Secara umum, kemampuan Pogba saat ini memang dapat dikatakan masih di bawah Messi, Ronaldo, dan Neymar. Namun, dalam beberapa tahun mendatang, dengan kerja keras, disiplin, dan konsistensi, Pogba dapat menyejajarkan diri dengan ketiga pemain brilian itu. Bersama Neymar, Pogba menjadi calon serius untuk menggantikan serta meneruskan kebintangan Messi dan Ronaldo.