Monday, November 27, 2017

Sejauh ini Belum Ada Bintang Baru yang Mampu Menggantikan Messi dan Ronaldo

Sumber: www2.pictures.zimbio.com, www1.pictures.zimbio.com,
http i.dailymail.co.uk

       Selama sembilan atau sepuluh tahun terakhir (2008-2017), gelanggang sepak bola dunia seolah-olah menjadi milik dua pemain saja: Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.  Selama kurun waktu itu, penghargaan-penghargaan terbaik level Eropa dan dunia praktis hanya dikuasai oleh mereka berdua. Rekor-rekor mencetak gol di liga domestik (La Liga) dan Liga Champions serta rekor mengantarkan klubnya masing-masing (Barcelona dan Real Madrid) menjuarai liga domestik dan Liga Champions dipegang oleh mereka berdua. 
Penghargaan Ballon d'Or dari FIFA sebagai pemain terbaik dunia juga didominasi mereka. Selama sepuluh tahun terakhir, penghargaan dan gelar individual paling bergengsi bagi seorang pemain sepak bola itu hanya berganti-ganti dari Messi ke Ronaldo tanpa pemain lain mampu menyentuhnya. Sebanyak lima kali penghargaan Ballon d'Or jatuh ke tangan Messi, yakni pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2015, sebanyak lima kali pula direbut oleh Ronaldo, yakni untuk tahun 2008, 2013, 2014, 2016, dan 2017.
Dengan skill  individu dan kemampuan mencetak golnya yang tinggi dan jauh di atas para pemain lain, Messi dan Ronaldo memang menjadi megabintang sepak bola Eropa dan dunia selama satu dasawarsa terakhir. Dengan kemampuan istimewa yang dimilikinya, praktis tidak ada pemain lain yang mampu menyaingi performa mereka berdua. Di tengah ketidakmampuan pemain lain memberikan rivalitas, praktis hanya mereka berdualah yang saling bersaing untuk mencetak gol, memenangkan pertandingan, serta merebut gelar dan penghargaan bergengsi di Spanyol, Eropa, dan dunia.
Namun, sejalan dengan berjalannya waktu dan bertambahnya usia, Messi dan Ronaldo suatu saat akan mengalami penurunan hingga kemudian akan digantikan oleh bintang-bintang muda yang muncul kemudian. Dalam waktu kurang dari sepuluh tahun mendatang, Messi (yang saat ini berusia 30 tahun) dan Ronaldo (32 tahun) kemungkinan besar sudah akan gantung sepatu (pensiun) atau, kalau masih aktif di lapangan hijau, permaianannya sudah hampir pasti akan jauh menurun sehingga kebintangannya akan pudar. Ketika itulah akan muncul bintang-bintang baru menggantikan mereka.
Siapakah pemain-pemain baru yang akan menggantikan kebintangan Messi dan Ronaldo? Sejauh ini memang belum ada bintang baru yang benar-benar menonjol dalam usia belasan tahun sebagaimana dahulu terjadi pada diri Messi dan Ronaldo. Pada awal tahun 2000-an, ketika sepak bola Eropa dan dunia didominasi oleh bintang-bintang besar seperti Ronaldo (Brasil), Zinedine Zidane, Ronaldinho, Rivaldo, Raul Gonzales, dan Luis Figo, Lionel Messi dan Ronaldo yang saat itu masih berusia belasan tahun sudah menunjukkan bakatnya yang besar dan mencengangkan. Keduanya memang belum mampu bersaing secara ketat dan konsisten dengan para seniornya, tetapi sesekali Messi dan Ronaldo mampu tampil cemerlang dan mencetak gol brilian yang menentukan kemenangan timnya.
Dalam usia belasan tahun Messi sudah masuk tim utama Barcelona bersama Ronaldinho walaupun masih menjadi pemain cadangan. Bintang utama Barcelona saat itu adalah Ronaldinho, tetapi sesekali Messi merebut perhatian publik dengan mencetak gol brilian yang menentukan kemenangan El Barca. Demikian juga dengan Ronaldo yang pada awal 2000-an bermain di Manchester United. Dalam usia belasan tahun ia sudah cukup menonjol di tim utama MU dengan sesekali – seperti halnya Messi -- membuat gol spektakuler.
Baik Messi maupun Ronaldo sudah mampu menunjukkan permainan yang memukau pada usia belasan tahun. Bersama timnya masing-masing, sebelum usianya mencapai 20 tahun, mereka sudah mampu bermain bagus dengan teknik tinggi. Sementara itu, keterampilan mereka yang mencengangkan dalam mencetak gol mengantarkan mereka masuk tim utama kendatipun pada awalnya baru sebatas pemain pengganti (cadangan). Mereka memang belum mampu menjadi bintang Piala Dunia (World Cup) dalam usia belasan tahun seperti Pele, tetapi mereka sudah mampu menjadi bintang klub di tengah persaingan yang sangat ketat.
Saat usia mereka belum genap 20 tahun, sudah terlihat jelas bahwa mereka bakal menjadi penerus yang mumpuni bagi bintang-bintang senior mereka. Di kemudian hari terbukti, Messi dan Ronaldo menjadi bintang besar bagi klubnya masing-masing. Dengan sangat meyakinkan, mereka juga lebih dari sekadar mampu untuk meneruskan kebintangan para seniornya. Di Barcelona, Messi menjadi penerus yang sepadan untuk Cruyff, Maradona, Romario, Ronaldo, Ronaldinho, Rivaldo, Luis Figo, Saviola, Kluivert, dan sebagainya. Adapun di Manchester United dan Real Madrid, Ronaldo mampu menjadi penerus yang sejajar untuk Bobby Charlton, George Best, Denis Law, Mark Hughes, Cantona, Nistelrooy, Beckham, Ryan Gyggs, Scholes, Solskjaer, Alfredo di Stefano, Ferenc Puskas, Butragueno, Michel, Sanchez, Zamorano, Redondo, Raul Gonzales, Zidane, dan sebagainya.
Apakah saat ini ada pemain muda berbakat yang mampu bermain menonjol dalam usia belasan tahun di level liga-liga elite Eropa sebagaimana yang diperlihatkan Messi dan Ronaldo pada masa mudanya dahulu? Tampaknya belum ada. Beberapa nama pemain disebut-sebut sebagai calon penerus Messi dan Ronaldo. Namun, permainan mereka saat ini terlihat masih belum sebaik Messi dan Ronaldo ketika keduanya seusia mereka.
Neymar yang saat ini bermain untuk Paris Saint Germain (Prancis) merupakan nama yang dianggap paling favorit untuk menggantikan kebintangan Messi dan Ronaldo. Namun, dalam usia yang sudah tergolong matang saat ini (25 tahun), Neymar masih juga belum mampu melampaui Messi dan Ronaldo walaupun dalam pemilihan pemenang Ballon d’Or tahun 2015 dan 2016, ia sempat bersaing ketat dengan keduanya. Jika saat ini Neymar berusia di bawah 22 tahun, peluangnya untuk menggantikan Messi dan Ronaldo masih terbuka lebar.
Sampai dengan dua-tiga tahun mendatang, Neymar tampaknya masih akan tetap berada di bawah bayang-bayang Messi dan Ronaldo. Namun, ia masih memiliki kesempatan waktu sekitar dua sampai empat tahun untuk menggantikan Messi dan Ronaldo.  Dua-tiga tahun dari sekarang, saat Messi berusia 32/33 tahun dan Ronaldo berusia 34/35 tahun, dan keduanya sudah mengalami penurunan kemampuan yang cukup drastis, Neymar yang saat itu akan berusia 27/28 tahun justru dapat mencapai puncak kemampuan dan kebintangannya jika ia bisa bermain konsisten serta mampu mengembangkan skill individu dan mentalitas bertandingnya secara progresif. Namun, dengan menjadi pemain dan bintang terbaik pada usia 27/28, puncak kebintangan Neymar tentu saja tidak akan sepanjang atau selama Messi dan Ronaldo.
Sejumlah nama lain juga diperkirakan bisa menjadi penerus Messi dan Ronaldo. Ada Isco (25 tahun, Real Madrid), Paul Pogba (24 tahun, Manchester United), Paulo Dybala (23 tahun, Juventus), Dele Alli (21 tahun, Tottenham Hotspur), Leroy Sane (21 tahun, Manchester City), Ousmane Dembele (20 tahun, Barcelona), Gabriel Jesus (20 tahun, Manchester City), Marcus Rashford (20 tahun, Manchester United), dan Kylian Mbappe (19 tahun, AS Monaco). Menurut sejumlah media dan para pengamat, nama-nama tersebut cukup berbakat, produktif, dan memiliki prospek yang baik untuk menggantikan dan meneruskan Messi dan Ronaldo.
Namun, kembali nama-nama itu perlu diperbandingkan dengan Messi dan Ronaldo saat keduanya bermain seusia mereka. Permainan, produktivitas, dan kontribusi mereka pada klubnya masing-masing saat ini tampaknya belum sebaik dan sekonsisten hal yang sama yang diperlihatkan Messi dan Ronaldo dahulu. Mungkin benar, mereka memang potensial dan sering bermain bagus, tetapi sejauh ini gaung dan dampak permainan mereka masih di bawah Neymar dan masih jauh sekali di bawah Messi dan Ronaldo.
Untuk menyejajarkan diri dengan Neymar dan apalagi dengan Messi dan Ronaldo, mereka harus bekerja sangat keras. Jika bakat mereka mencukupi, kerja keras dan konsistensi dalam mengembangkan talenta dapat membuahkan hasil yang bagus: beberapa dari mereka bisa menjadi pewaris Messi dan Ronaldo. Perihal apakah hal itu akan terwujud atau tidak, kita tunggu dalam dua sampai empat tahun mendatang.
       Namun, bagaimanapun juga, sebagai pencinta sepak bola, kita tentu berharap, dalam waktu yang tidak terlalu lama akan ada bintang baru yang meneruskan permainan dan kebintangan Messi dan Ronaldo. Siapa pun dia atau mereka (Neymar, Pogba, Dybala, Mbappe, Dembele, atau yang lainnya) itu tidaklah penting; yang penting muncul bintang baru dengan kemampuan yang setara atau bahkan mungkin melebihi Messi dan Ronaldo. Secara alami atau diusahakan secara ilmiah dan sistematis, hal itu harus terwujud agar sepak bola tetap menjadi olahraga yang memiliki daya tarik.

Sunday, November 26, 2017

Empat–Lima Tahun Lagi Dunia Sepak Bola Akan Kehilangan Messi dan Ronaldo

Sumber: assets.kompas.com

Lionel Messi (Argentina) dan Cristiano Ronaldo (Portugal) adalah dua pemain sepak bola terbaik di dunia selama kurang lebih sepuluh tahun terakhir (2008—2017).  Sejak tahun 2008 hingga 2017, mereka secara bergantian terpilih menjadi best player (pemain terbaik dunia) dengan meraih penghargaan Ballon d'Or  dari FIFA. Messi memenangkan Ballon d'Or sebanyak lima kali, yakni pada tahun 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2015; demikian pula halnya dengan Ronaldo telah memenangkan penghargaan yang sama sebanyak lima kali, yakni untuk tahun 2008, 2013, 2014, 2016, dan 2017.
Praktis selama sepuluh tahun itu, mereka berdua merajai sepak bola dunia. Hingga sejauh ini mereka memang belum mampu membawa tim nasional negaranya masing-masing, Argentina dan Portugal, menjadi juara dunia (World Cup). Namun, permainan mereka di lapangan hijau jelas sekali selama sepuluh tahun terakhir tidak bisa disaingi oleh pemain lain mana pun. Baik dalam keterampilan bermain (skill) maupun mencetak gol dan mengantarkan klubnya menjadi juara (liga domestik, Liga Champions, dan Kejuaraan Dunia Antarklub), Messi dan Ronaldo jauh meninggalkan pemain-pemain lain.
Namun, seiring dengan bertambahnya usia, mereka suatu saat tentu akan tersusul, tersaingi, dan tergantikan oleh bintang-bintang muda yang muncul kemudian. Usia akan menjadi kendala keduanya untuk mempertahankan performa di atas lapangan. Usia menua yang menyebabkan menurunnya kecepatan, stamina, power, kegesitan, dan skill, tidak bisa mereka lawan. Bagaimanapun juga, pada usia 30-an tahun mereka mulai akan menunjukkan penurunan.
Mereka berdua kini memang sudah memasuki usia itu. Messi kini berusia 30 tahun, adapun Ronaldo bahkan sudah 32 tahun. Hingga sejauh ini, Messi yang lebih muda dua tahun masih memperlihatkan performa cukup baik: ia masih gesit, tajam, dan mampu membawa timnya (Barcelona) ke puncak klasemen Liga Spanyol dan Liga Champions (hingga akhir November). Namun, apakah dalam tiga-empat tahun mendatang ia masih masih mampu mempertahankan keadaan ini atau tidak, menjadi pertanyaan yang jawabannya, kemungkinan besar, “tidak bisa”. Kecuali terjadi hal-hal yang luar biasa, dalam tiga-empat tahun lagi Messi akan memasuki masa-masa sulit karena performanya akan menurun.
Messi akan merasakan apa yang saat ini mulai dirasakan Ronaldo. Ronaldo yang dua tahun lebih tua, pada tahun dan musim ini (2017) tengah mengalami masa-masa cukup sulit. Ketajamannya dalam mencetak gol merosot (terutama di liga domestik La Liga). Akurasi dan kemampuannya memanfaatkan peluang menjadi gol terlihat sudah mulai menurun. Saat artikel ini ditulis, ia baru mencetak satu gol untuk Real Madrid di ajang La Liga untuk musim 2017/2018.
Betapapun Messi dan Ronaldo mulai memasuki masa-masa penurunan sebagai pemain sepak bola, kita masih berharap bahwa mereka masih mampu mempertahankan performanya dalam empat-lima tahun lagi. Tanpa mereka berdua, sepak bola dunia rasanya kering, monoton, dan tidak menarik. Aksi-aksi individu mereka sampai saat ini belum bisa disamai oleh para pemain lain. Neymar, Gareth Bale, Eden Hazard, Paul Pogba, Harry Kane, Dele Alli, Marcus Rashford, Paulo Dybala, Marco Asensio, Isco, Antoine Greizmann, Kylian Mbappe, dan Ousmane Dembele, yang sering disebut sebagai bintang-bintang baru permainannya masih berada di bawah level Messi dan Ronaldo.
Walaupun secara riil usia Messi dan Ronaldo mulai menua dan akan segera menurun permainannya, dengan frekuensi yang tidak lagi tinggi (seperti saat mereka berusia 20-an) dan secara sporadis mereka sebenarnya masih bisa menunjukkan permainan atraktifnya. Kita berharap, sesekali mereka masih melakukan aksi-aksi individualnya yang menawan. Bintang-bintang besar masa lalu, seperti Pele, Beckenbauer, Cruyff, Maradona, Hagi, Zico, Baggio, Ronaldo, dan Ronaldinho di sisa-sisa kejayaannya pada usia 30-an tahun sesekali masih mampu memperlihatkan skill individunya yang memukau.
Kita tentunya berharap, Messi dan Ronaldo masih mampu meneruskan tradisi para pendahulunya itu.  Dan jika suatu saat mereka berdua sudah tidak mampu lagi melakukannya –- karena usia yang mungkin sudah terlalu tua –- kita berharap ada bintang-bintang baru yang mampu menggantikannya dengan level permainan yang sama atau setidaknya hampir sama.

Saturday, November 25, 2017

Kasus Setya Novanto serta Persepsi Publik terhadap DPR dan Partai Golkar

Sumber: cdn1-a.production.images.static6.com

     Setya Novanto beberapa kali sempat tersangkut masalah etika dan hukum, tetapi selalu berhasil lolos dari sanksi dan hukuman. Ia lolos dari kasus “Papa Minta Saham” yang menghebohkan beberapa waktu lalu. Pada bulan Juli 2017 ia ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam kasus korupsi proyek pengadaan KTP elektronik (e-KTP), tetapi berhasil lepas dari jerat hukum karena gugatan praperadilannya dimenangkan oleh pengadilan.
Memasuki bulan November, kembali Novanto ditetapkan oleh KPK sebagai tersangka untuk kasus yang sama (korupsi KTP elektronik). Setelah beberapa kali menolak (mangkir) dari panggilan KPK, Novanto mendapat jemputan paksa dari KPK di rumahnya. Namun, saat penyidik KPK datang, ia tidak berada di rumah sehingga dinyatakan masuk dalam DPO (daftar pencarian orang). Beberapa jam kemudian Novanto ditemukan sedang menjalani perawatan di sebuah rumah sakit setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.  Setelah mendatangkan dokter independen untuk mengetahui dan memastikan kondisi Novanto, KPK akhirnya memutuskan untuk menahan dan memindahkan Novanto secara paksa ke rumah tahanan milik KPK.
Ditahannya Setya Novanto oleh KPK menjadikan kasus korupsi e-KTP dengan tersangka dirinya memasuki babak baru. Kendatipun untuk kali ini ia juga kembali mengajukan gugatan praperadilan, penahanan KPK terhadap dirinya merupakan langkah atau proses baru yang sebelumnya tidak dilakukan. Keberanian dan ketegasan KPK untuk menahan Setya Novanto  yang merupakan ketua DPR dan ketua umum Partai Golkar  – adalah kejutan yang melegakan masyarakat Indonesia. Proses hukum atas dirinya tengah dan akan berlangsung:  kini ia meringkuk di tahanan KPK sambil menunggu proses gugatan praperadilannya akan mulai disidangkan pada tanggal 30 November.
Penahanan Setya Novanto oleh KPK juga membuka babak baru mengenai pandangan dan persepsi publik terhadap DPR dan Partai Golkar. Tidak dapat dihindarkan lagi, karena Setya Novanto merupakan ketua DPR dan ketua umum Partai Golkar, penahanan dan sangkaan (terlibat korupsi KTP elektronik) terhadapnya sangat mempengaruhi penilaian publik terhadap kedua institusi tersebut.  Dengan pertimbangan etika dan kepatutan, publik umumnya menganggap bahwa penetapan tersangka dan penahanan Setya Novanto oleh KPK menyebabkan kedua lembaga yang dipimpinnya (DPR dan Partai Golkar) ikut tercoreng.
Oleh sebab itu, publik banyak yang menghendaki agar Novanto segera mundur dari jabatan ketua DPR, sementara kader dan simpatisan Partai Golkar juga tidak sedikit yang meminta Novanto untuk mengundurkan diri dari posisi ketua umum partai berlambang pohon beringin ini. Hal itu sebenarnya sudah mengemuka sejak bulan Juli-September lalu ketika Setya Novanto untuk kali yang pertama ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Dan keinginan tersebut tampaknya mencuat kian kuat saat untuk kali yang kedua ia kembali ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus yang sama yang disertai dengan penahanan atas dirinya oleh KPK .
Secara hukum, Setya Novanto memang belum dinyatakan bersalah (melakukan korupsi) karena proses hukum atas dirinya tengah berjalan serta belum selesai (final) dan berkekuatan hukum tetap (inkrah). Itulah sebabnya, ia masih berhak mendapatkan perlakuan yang sesuai dengan asas praduga tak bersalah (presumption innocence). Ia tengah dan akan menjalani proses peradilan untuk membuktikan apakah ia bersalah atau tidak bersalah (dalam kasus korupsi pengadaan KTP elektronik).
Akan tetapi, lain proses hukum lain pula dinamika persepsi publik terhadap lembaga perwakilan rakyat dan partai politik. Terhadap DPR dan partai politik (dalam hal ini Partai Golkar), publik tidak akan memberikan pandangan dan penilaiannya semata-mata dari kacamata hukum jika pemimpinnya tersangkut kasus hukum dan berurusan dengan lembaga sekredibel KPK, betapapun kesalahannya belum terbukti. Selain dari perspektif hukum, publik  terutama akan memberikan pendangan dan penilaiannya dari perspektif etika dan kepatutan. Bagaimanapun juga, kendatipun secara hukum belum terbukti bersalah, seorang ketua DPR dan ketua umum partai politik yang dinyatakan menjadi tersangka dan ditahan, di mata publik serta kader dan simpatisan partainya secara etika dan kepatutan umumnya dianggap telah mendapat “aib” karena telah menurunkan citra atau nama baik  lembaga yang dipimpinnya sehingga perlu diminta untuk mengundurkan diri baik secara tetap maupun sementara.
Kini, keputusan pengunduran diri Novanto atau pemberhentian dirinya dari jabatan ketua DPR dan ketua umum Golkar lebih banyak tergantung pada Novanto sendiri serta para pemimpin baik di tubuh DPR maupun Partai Golkar.  Kemungkinan besar yang akan terjadi, keputusannya akan diambil dengan lebih mempertimbangkan dimensi atau aspek politik daripada aspek lainnya. Namun, jika para politisi Senayan (DPR) dan Partai Golkar memiliki logika dan pertimbangan sendiri, publik pun juga memiliki logika dan pertimbangannya sendiri. Hasil pengambilan keputusan publik berdasarkan logika dan pertimbangan mereka sendiri akan dapat kita saksikan pada Pilkada (pemilihan kepala daerah) 2018 serta pemilu legislatif 2019 mendatang.