Monday, July 30, 2018

Bakso Solo yang Lezat dan Terkenal

Bakso Solo (Sumber: http://www.dapurkokimasak.blogspot.co.id)


Bakso sebenarnya sudah menjadi makanan rakyat Indonesia yang banyak ditemukan di berbagai pelosok tanah air. Hampir di semua provinsi di Indonesia kita dapat menemukan makanan yang satu ini. Namun, dari berbagai jenis bakso yang ada di Indonesia, beberapa di antaranya lebih menonjol dan lebih terkenal; misalnya bakso dari Solo, Malang, dan Wonogiri.
Solo tidak hanya terkenal dengan kuliner khasnya, seperti dawet telasih, selat, serabi, dan timlo, melainkan juga dengan baksonya. Bakso dari Kota Solo terkenal memiliki cita rasa yang khas. Selain kenyal dan renyah, bola baksonya terasa gurih dan lezat. Kuahnya pun enak dan sensasional.
Tak mengherankan, bakso Solo tidak hanya digemari oleh masyarakat Solo sendiri. Bakso yang dijual dengan label “Bakso Solo” di berbagai kota di Indonesia, seperti di Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Medan, Balikpapan, dan Makassar, laku dan digemari oleh para pembeli. Sebuah situs (blog/website) yang secara khusus memberikan layanan konsultasi dan pelatihan cara membuat hidangan bakso ala Solo yang berbasis di Kota Solo pun ramai dikunjungi oleh warganet (nertizen) dari berbagai kota dan daerah di Indonesia.
Bakso merupakan makanan berkuah yang umumnya berbahan baku utama daging sapi. Daging sapi bisa diganti dan dikombinasi dengan daging lain, misalnya ayam, kerbau, ikan tuna, atau ikan patin, tetapi umumnya yang tetap dan paling disukai masyarakat adalah daging sapi. Bakso disukai oleh masyarakat Indonesia dari semua kalangan dan usia.
Bakso Solo dihidangkan dengan mangkuk dalam sajian berisi beberapa butir bola daging sapi (gelindingan/pentolan) ditambah dengan mi, pangsit, tahu, sawi, dan seledri, kemudian disiram dengan kuah kaldu sapi dan kadang ditaburkan di atasnya irisan bawang putih atau bawang merah goreng. Untuk meningkatkan cita rasa, dapat ditambahkan sambal, saus, dan kecap. Dapat pula disantap bersama nasi putih dan kerupuk atau rambak.
Semangkuk bakso Solo (yang sudah dikenal memiliki rasa enak dan populer) rata-rata dijual dengan harga Rp12.000,00 hingga Rp20.000,00. Untuk bakso yang belum begitu dikenal, umumnya dijual dengan harga yang jauh lebih murah, berkisar antara Rp7.000,00 hingga Rp10.000,00. Berikut ini beberapa warung bakso Solo yang sudah terkenal dan memiliki rasa yang lezat.
·          Bakso Mi Horison (Solo Grand Mall)
·          Bakso Pak Tino
·          Bakso Pak Kumis
·          Bakso Alex
·          Bakso Tittoti
·          Bakso Kadipolo
·          Bakso Patung Kuda
·          Bakso Thengkleng Mas Bambang
·          Bakso Garasi
·          Bakso Pak Min
·          Bakso Sriwaru

(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/05/bakso-solo-yang-lezat-dan-terkenal.html, 28 Mei 2018)

Nasi Megono, Santapan Khas Masyarakat Batang dan Pekalongan


Nasi megono (Sumber: www.indoindians.com)

Masyarakat di kawasan pantai utara Pulau Jawa (pantura) bagian barat Jawa Tengah, khususnya di sepanjang Kabupaten Pekalongan ke timur hingga Kabupaten Batang, memiliki jenis santapan nasi khusus yang tidak dimiliki daerah lain. Jenis makanan nasi khusus tersebut biasa disebut ‘nasi megono’ (sego megono). Makanan ini menjadi hidangan khas daerah Batang dan Pekalongan yang sederhana, murah, dan merakyat.
Nasi megono atau biasa disebut megono saja (yang di dalamnya otomatis sudah termasuk nasi) telah menjadi santapan masyarakat Batang dan Pekalongan secara turun-temurun sejak zaman dahulu. Kendatipun bentuk atau penampilannya terlihat sangat sederhana, nasi megono masih menjadi salah satu hidangan favorit masyarakat di kedua daerah itu hingga saat ini. Di tengah keberadaan berbagai jenis makanan modern baik yang berasal dari luar daerah maupun dari luar negeri, nasi megono tetap bisa eksis sebagai makanan tradisional khas masyarakat Batang dan Pekalongan.
Bentuk atau penampilan nasi megono memang benar-benar sederhana, tetapi di lidah orang-orang Batang dan Pekalongan dirasakan tidak kalah dengan jenis-jenis masakan nasi yang lain, seperti nasi uduk, nasi gandhul, nasi becak, nasi goreng, dan nasi bakar. Citarasa khas nasi megono yang sudah menjadi makanan rakyat sehari-hari tidak dapat digantikan begitu saja oleh jenis makanan lain yang beberapa tahun terakhir ini “menyerbu” warung makan dan restoran. Di tengah menikmati berbagai jenis makanan lain yang kadang terdengar aneh dan asing, masyarakat Batang dan Pekalongan masih tetap setia menyantap nasi megono.
Nasi megono memiliki ciri yang simpel dan ringkas. Bentuknya berupa nasi putih yang di atasnya ditaburkan cincangan (cacahan) daging buah nangka muda (cecek/gori). Sebelum ditaburkan di atas nasi, cincangan buah nangka muda terlebih dahulu dicampur dengan racikan bumbu yang telah dihaluskan (antara lain, dari bawang putih, bawang merah, cabai, daun bawang, garam, ketumbar, merica, lengkuas, dan daun salam) kemudian dikukus dengan parutan kelapa selama kurang lebih 30 menit.
Nasi megono masih dengan mudah dijumpai di Batang dan Pekalongan. Di warung-warung tepian jalan raya dan jalan kampung, nasi ini dijual dengan harga yang relatif murah. Masyarakat umumnya menjadikannya sebagai santapan pagi hari (sarapan), tetapi kadang ada juga yang memanfaatkannya untuk makan siang dan malam. Nasi megono biasanya disajikan dengan tempe (mendoan atau biasa) sebagai lauknya, tetapi bisa juga disantap dengan lauk-lauk lain, yakni tahu goreng , telur, perkedel, empal, telur asin, telur ceplok atau dadar, ikan goreng, ayam goreng, dan sebaganya.
Bahkan, nasi megono juga bisa dipadu dan disantap dengan sayur lain, seperti gulai kambing, satai kambing, semur telur, semur daging, kering tempe, opor ayam, sambal goreng kentang, dan cumi kuah. Disantap dengan sayur lain, nasi megono akan terasa lebih kaya rasa, tanpa kehilangan ciri khas citarasanya. Jika Anda singgah di Batang atau Pekalongan, Anda akan lebih mendapat kesan yang mendalam jika Anda menyempatkan diri untuk menikmati santapan ini.
(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/02/nasi-megono-santapan-khas-masyarakt.html,  2 Februaril 2018)

Makanan Khas Ngawi yang Perlu Kita Cicipi

Lethok atau sayur tumpang khas Ngawi (Sumber: i2.wp.com)


     Ngawi adalah sebuah kota dan kabupaten yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Ngawi berada di ujung barat provinsi Jawa Timur
serta wilayahnya sebagian besar merupakan dataran rendah. Secara geografis, Ngawi memang termasuk dalam Provinsi Jawa Timur, tetapi secara kultural dan bahasa lebih dekat dengan Provinsi Jawa Tengah (terutama Surakarta dan Yogyakarta) sehingga sering disebut “Jawa Timur Mataraman”. Istilah terakhir ini lazim digunakan untuk menyebut daerah-daerah di Jawa Timur yang masyarakatnya memiliki bahasa dan budaya yang mirip dengan bahasa dan budaya masyarakat sekitar Surakarta (Solo) dan Yogyakarta.
Kemiripan budaya dan bahasa juga membawa kemiripan pada aspek kulinernya. Berbagai jenis makanan khas masyarakat Ngawi memiliki kemiripan dengan makanan masyarakat Surakarta atau Yogyakarta. Misalnya, nasi tumpang dan nasi pecel, baik di Ngawi maupun di Solo (Surakarta), keduanya merupakan jenis makanan yang populer dan merakyat.
Di daerah-daerah lain, nasi tumpang dan nasi pecel juga dijumpai, tetapi umumnya masih di daerah Mataraman dengan bahan-bahan dan citarasa yang relatif hampir sama. Selain dijumpai di Ngawi dan Solo, nasi tumpang dan nasi pecel juga dapat ditemukan di sepanjang daerah Madiun ke arah timur hingga Kediri, yang bahasa dan kultur masyarakatnya masih dalam kategori Mataraman.
Oleh karena itu, beberapa jenis makanan khas Ngawi juga memiliki kemiripan dengan makanan khas kota-kota dan daerah-daerah Mataraman. Namun, walaupun namanya sama atau mirip, citarasa makanan khas itu tetap cenderung berbeda untuk setiap kota atau daerah. Nasi tumpang khas Ngawi memiliki citarasa berbeda dengan nasi tumpang ala Solo atau Kediri, demikian juga nasi pecelnya.
Nasi tumpang di Ngawi disebut nasi lethok. Kuah atau sambal tumpang yang digunakan untuk mengguyur sayuran dan nasi dalam hidangan ini disebut sambal lethok. Lethok atau nasi lethok menjadi salah satu makanan khas daerah Ngawi. Selain nasi lethok, Ngawi masih memiliki beberapa makanan khas lain seperti dipaparkan berikut ini.
·       Lethok (Tumpang)
Lethok merupakan masakan berbentuk kuah kental atau sambal yang dibuat dari tempe dengan proses fermentasi dibuat lebih lama yang dilumat dan dicampur dengan santan, racikan bumbu cabai, bawang putih, bawang merah, garam, lengkuas, dan kencur. Ke dalamnya biasanya dimasukkan pula tahu, rambak (kulit sapi kering), petai, cabai rawit utuh, dan daun jeruk purut. Untuk menambah citarasa dan kelezatan, dapat juga ditambahkan ebi (udang kecil-kecil kering) dan lemak atau urat sapi.
Lethok lazim disantap dengan nasi putih dan sayuran hijau yang direbus. Cara menghidangkannya, nasi putih di atasnya ditaburi sayuran hijau rebus (biasanya bayam, kenikir, daun singkong, kacang panjang, dan tauge), kemudian disiram dengan sambal/bumbu lethok sehingga kemudian dinamakan nasi lethok. Hidangan ini bisa disantap dengan berbagai macam lauk: rempeyek, tempe goreng, tahu goreng, telur ceplok, ayam goreng, ikan goreng, empal, dan sebagainya.
·       Nasi Pecel
Nasi pecel sebenarnya ditemukan di berbagai daerah –– Madiun, Kediri, Solo, dan sebagainya –– tetapi nasi pecel Ngawi memiliki karakteristik sendiri sehingga dapat dikatakan nasi pecel Ngawi merupakan salah satu kuliner khas daerah ini. Racikan bumbu untuk sambal pecel Ngawi berbeda dengan racikan bumbu pecel daerah lain. Sambalnya dibuat (ditumbuk) agak kasar dan citarasa pedasnya agak menonjol. Adapun sayuran hijau yang digunakan umumnya daun singkong, kenikir, bayam, kacang panjang, dan kecambah (tauge).  Saat penyajian dapat juga ditambahkan kemangi mentah sebagai lalapan.
Hal yang juga cukup unik, penyajian nasi pecel khas Ngawi kadangkala dipadu dengan lethok (tumpang). Sebagian orang Ngawi gemar mengombinasikan pecel dengan lethok, yakni sambal atau kuah bumbu pecel disiramkan ke atas sayuran hijau dan nasi bersama dengan sambal atau kuah bumbu lethok sehingga citarasanya menjadi jauh lebih kaya. Nasi pecel Ngawi biasanya dijadikan santapan pagi hari (sarapan).
Penyajiannya bisa dilakukan di atas piring biasa, tetapi terasa lebih nikmat dan natural jika disajikan dengan daun jati atau daun pisang. Seperti halnya nasi lethok, nasi pecel juga bisa disantap dengan aneka lauk pelengkap. Di warung-warung tradisional, lauk yang disediakan, antara lain, terdiri atas rempeyek, tempe goreng, tahu goreng, tahu isi goreng, bakwan, dan telur ceplok. Untuk sarapan, Anda bisa membelinya di warung tepi jalan atau pasar tradisional serta membawanya pulang untuk disantap dengan berbagai lauk tambahan favorit: telur dadar, empal sapi, paru, telur asin, ayam goreng, dan sebagainya.
·        Tepo Tahu
Tepo tahu merupakan makanan khas Ngawi yang berbahan utama lontong dan tahu. Tepo tahu sepintas mirip dengan masakan lontong tahu atau tahu kupat yang ada di beberapa daerah lain. Namun, tepo tahu memiliki spesifikasi yang tidak dijumpai pada lontong tahu dan tahu kupat.
Tepo tahu dibuat dari kombinasi lontong, tahu goreng, kol, tauge, seledri, kacang tanah goreng, bawang goreng, dan tomat, yang dipadu dengan kuah gula merah dan kecap manis. Cara menghidangkannya adalah irisan lontong dan irisan tipis tahu goreng (setengah matang) ditaruh di atas piting atau mangkuk, kemudian di atasnya ditaburkan kacang tanah goreng (utuh), tauge (kecambah), irisan kol (kubis), irisan seledri, irisan tomat segar, dan irisan bawang goreng. Terakhir dituangkan ke atasnya kuah encer yang terbuat dari paduan gula merah dan kecap manis. Saat disantap, dapat ditambahkan sambal rebus dan kecap asin.
·       Keripik Tempe
Kripik tempe sebenarnya sudah menjadi makanan khas berbagai daerah di Indonesia. Ngawi merupakan salah satu kota dan daerah yang masyarakatnya menjadi produsen (penghasil) keripik tempe yang gurih dan krispi. Sungguhpun sudah diproduksi oleh banyak daerah lain, keripik tempe tetap dapat dikatakan sebagai makanan khas Ngawi. Hal ini karena selain sudah menjadi industri rumahan (home industry) di beberapa desa dan kecamatan di Ngawi, keripik tempe ala Ngawi juga memiliki citarasa tersendiri.
Tempe yang menjadi bahan baku utama pembuatan keripik tempe di Ngawi umumnya  diproduksi sendiri oleh masyarakat setempat. Masyarakat di sebuah desa di Ngawi, yakni Desa Prandon, banyak yang menjadi perajin tempe sehingga desa itu mendapat julukan “Desa Tempe”. Adapun kedelai sebagai bahan baku pokoknya diimpor dari Amerika Serikat melalui Koperasi Unit Desa.
Satu hal yang khusus dari keripik tempe Ngawi adalah memiliki aroma dan citarasa daun jeruk dan kencur. Di dalamnya juga ada citarasa pedas dan gurih. Dengan tidak meninggalkan teksturnya yang kasar dan kaku sehingga menjadi renyah (krispi atau kemripik) saat digigit, keripik tempe khas Ngawi menjadi makanan ringan yang kaya rasa dan enak.
(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/02/makanan-khas-ngawi-yang-perlu-anda.html, 4 Februaril 2018)

Es Dawet Telasih, Minuman Tradisional Khas Solo yang Menggoda dan Melegenda

Dawet telasih (Sumber://http.www.laksanahotel.com)


Di Indonesia dikenal berbagai jenis es dawet yang enak dan menyegarkan. Namun, dari semua jenis es dawet yang pernah ada di Indonesia, es dawet telasih Solo menjadi es dawet yang dapat dikatakan paling khas dan paling kaya citarasanya. Dari namanya saja sudah dapat ditebak, es dawet ini tidak hanya memiliki citarasa cendol sebagai komponen yang paling khas dan menonjol dari minuman bernama dawet, melainkan juga memiliki tambahan telasih sebagai komponen yang sangat khas dari es dawet ini.
Es dawet telasih juga merupakan es dawet yang paling legendaris khususnya di wilayah Solo Raya (Solo, Sukoharjo, Wonogiri, Karanganyar, Klaten, Sragen, dan Boyolali). Adapun di tingkat nasional, mungkin hanya es dawet ayu (Banjarnegara) yang mampu menyaingi ketenaran es dawet telasih khas Solo. Es dawet telasih telah menjadi salah satu ikon kuliner penting Kota Solo, selain selat, timlo, serabi notosuman, nasi liwet, sate buntel, dan tengkleng.
Es dawet telasih merupakan sejenis minuman dawet yang terbuat dari cendol, telasih, jenang sumsum, ketan hitam, cairan gula pasir, santan, esen (pengharum), tapai ketan, dan serpihan es batu. Komposisi dan gabungan ini merupakan kombinasi atau racikan yang standar. Untuk memperkaya citarasa, biasanya dapat ditambahkan pula ke dalamnya irisan daging nangka dan daging kelapa muda.
Dawet ini juga dapat disajikan tanpa es batu. Tanpa es batu, citarasa dawet telasih tidak akan berubah, tetap nikmat dan menggiurkan. Secara umum, es batu hanya berfungsi untuk memberikan efek dingin yang dapat menambah kesegaran atau kesejukan jika dawet dinikmati saat cuaca sedang panas.
  Seperti namanya, dawet telasih, bahan yang sepintas tampak paling menonjol dan dominan adalah cendol dan telasih. Telasih terlihat bertebaran mengambang di sebagian besar permukaan adonan dawet. Namun, semua bahan atau komponen sebenarnya disajikan dengan porsi yang relatif sama atau seimbang.
Selain cendol (berwarna hijau muda), jenang sumsum putih, dan ketan hitam, telasih memang menjadi penanda yang sangat khas dari dawet jenis ini. Telasih dibuat dari biji tanaman selasih. Setelah melalui pemrosesan, biji yang semula berbentuk butiran kecil berwarna hitam ini berubah menjadi seperti telur katak. Dimasukkan ke dalam adonan dawet, telasih memberikan sensasi yang terasa luar biasa saat diseruput: teksturnya yang sangat lembut dan licin benar-benar terasa lumer di  bibir dan lidah ­­–– membuat es dawet telasih benar-benar minuman yang lezat dan membuat tuman  (ketagihan).
(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/02/es-dawet-telasih-minuman-tradisional.html, 10 Februaril 2018)

Gudeg, Makanan Khas Tradisional Yogyakarta Peninggalan Mataram

Gudeg (Sumber: www.beritainfo.web.id)


Yogyakarta dan gudeg adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Yogyakarta selama ini dikenal sebagai daerah yang menghasilkan makanan khas tradisional yang disebut gudeg.  Meskipun saat ini sudah banyak ditemukan juga di berbagai kota dan daerah lain di Jawa Tengah, gudeg masih dianggap sebagai makanan khas Daerah Istimewa Yogyakarta sehingga Yogyakarta seringkali dijuluki sebagai Kota Gudeg (selain Kota Pelajar).
Gudeg merupakan makanan yang berbahan baku utama daging buah nangka muda (dalam bahasa Jawa disebut ‘gori’). Setelah dikupas kulitnya, nangka muda dipotong-potong, kemudian direbus dengan gula kelapa, santan, dan dibubuhi racikan bumbu yang, antara lain, terdiri atas bawang putih, garam, kemiri, lengkuas, dan daun salam. Waktu yang dibutuhkan untuk merebus hingga adonan itu benar-benar menjadi gudeg sekitar 4-5 jam. Setelah siap, gudeg biasanya dihidangkan bersama sambal goreng krecek dilengkapi dengan telur rebus, daging ayam, tahu, dan tempe.
Gudeg dapat dibuat dalam dua versi, yakni kering dan basah, sehingga dikenal ada gudeg kering dan gudeg basah. Gudeg kering dibuat atau dimasak dengan lebih sedikiit menggunakan santan sehingga menghasilkan kuah yang sangat sedikit dan kental. Sebaliknya, gudeg basah dimasak dengan menggunakan lebih banyak santan sehingga menghasilkan kuah yang lebih banyak dan lebih encer.
Hasil Ciptaan Pasukan Mataram
Sejarah gudeg dan Yogyakarta terkait dengan keberadaan Kerajaan Mataram berabad-abad yang lalu. Dahulu Kerajaan Mataram Islam didirikan di hutan Mentaok pada abad ke-16 (hutan Mentoak saat ini dikenal sebagai kawasan Kota Gede). Di hutan Mentaok banyak sekali tumbuh pohon nangka, kelapa, dan melinjo.
Dibutuhkan lahan yang luas untuk lokasi pendirian Kerajaan Mataram Islam di hutan Mentoak sehingga pohon nangka, kelapa, dan melinjo yang tumbuh di sana terpaksa harus ditebang. Banyaknya ketiga jenis tanaman itu yang ditebang menyebabkan para prajurit Mataram Islam terinspirasi dan tergerak untuk membuat makanan (masakan) dengan menggunakan bahan-bahan dasar yang berasal dari pohon-pohon yang ditebang tersebut. Masakan yang dihasilkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan prajurit Mataram Islam yang jumlahnya tidak sedikit.
Adapun awal digunakannya kata ‘gudeg’ untuk memberi nama makanan itu bermula dari proses ‘pengadukan’ yang dilakukan selama memasaknya. Dahulu, untuk memenuhi kebutuhan makan para prajurit Mataram, adonan buah nangka muda itu dimasak dalam jumlah sangat banyak sehingga harus ditempatkan di wadah (kendil, tempayan, atau panci) berukuran besar serta menggunakan pengaduk (alat untuk mengaduk) yang juga berukuran besar yang menyerupai dayung perahu/kano. Proses memasaknya dilakukan dengan dominan gerakan mengaduk-aduk (dalam bahasa Jawa disebut hangudheg) dalam waktu yang cukup lama. Dari proses dan kegiatan semacam itulah, makanan yang dihasilkan kemudian diberi nama ‘gudheg’ (dan selanjutnya populer dengan sebutan ‘gudeg’).
Sejak saat itulah masakan dengan bahan dasar utama dari tumbuhan nangka tersebut makin sering dibuat. Kian lama pula mengonsumsi hidangan yang kemudian dikenal dengan nama gudeg itu kian sering dilakukan serta menjadi kebutuhan  penting masyarakat Mataram. Gudeg pun tidak lekang oleh perubahan zaman dan perkembangan kehidupan masyarakat, melainkan mampu bertahan dan lestari hingga sekarang.
Gudeg pun kini tidak hanya menjadi makanan khas dan tradisional masyarakat Yogyakarta sebagai pusat dari Kerajaan Mataram Islam, tetapi juga masyarakat Solo dan sekitarnya yang secara historis menjadi bagian tak terpisahkan dari Kerajaan Mataram Islam. Bahkan gudeg saat juga tidak relatif mudah ditemukan di berbagai kota dan daerah di luar Yogyakarta dan Jawa Tengah. Gudeg sudah menjadi makanan legendaris nusantara yang banyak digemari masyarakat dari berbagai penjuru negeri yang dihidangkan dengan gaya tradisional atau modern menurut selera penikmatnya.
(Sumber: Panoramakanan, Sadah Siti Hajar, http://lanskap-makanan.blogspot.com/2018/04/gudeg-makanan-khas-tradisional.html, 24 April 2018)

Sunday, July 29, 2018

Khasiat dan Manfaat Kencur untuk Menghilangkan Stres dan Menyehatkan Tubuh

Kunyit (Sumber: kabartani.com)


Kencur tidak hanya enak untuk dijadikan minuman. Namun, manfaatnya banyak, salah satunya dapat menghilangkan stres. Kencur yang mempunyai nama Latin Kaempferia galanga masih satu keluarga dengan jahe atau zingiberaceae. Jadi, jangan heran jika banyak orang sering keliru membedakan kencur dengan jahe atau lengkuas karena bentuknya yang hampir mirip.
Namun, nyatanya, kencur dapat membawa manfaat yang berbeda dari jahe untuk kesehatan tubuh. Apa perbedaan antara kencur, jahe, dan lengkuas? Jika dilihat sekilas, kencur, jahe, dan lengkuas terlihat mirip. Meskipun sama-sama termasuk golongan tanaman akar, kencur memiliki penampakan kulit yang khas, berwarna kecokelatan dengan bagian dalam berwarna kuning pucat.
Selain itu, kencur juga memiliki aroma yang sangat kuat dan tekstur daging buahnya sedikit mirip dengan kunyit, tetapi lebih lembut. Tanaman kencur banyak tumbuh di wilayah beriklim tropis dan subtropis. Daerah penyebaran umumnya berada di Asia, antara lain di Indonesia, India, Bangladesh, Thailand, dan Malaysia.
Apa saja manfaat kencur untuk kesehatan? Selain sebagai bumbu masakan, ternyata kencur juga memiliki beragam manfaat yang baik untuk kesehatan. Berikut ini beberapa manfaat di antaranya.
·          Obat Batuk
Ramuan tradisional kencur yang dicampuran dengan garam sudah lama dikenal sebagai obat batuk berdahak. Mengonsumsinya bisa membuat pernapasan lebih lega dan membantu meredakan batuk berdahak lebih cepat. Selain bisa jadi obat batuk, bahan herbal ini sering dikonsumsi oleh para penyanyi sebelum mereka tampil untuk membantu menjaga kondisi pita suara di tenggorok dan melegakan tenggorokan.
·        Menghilangkan Stres
Sebuah penelitian yang dilakuan oleh para peneliti dari Departemen Farmasi Universitas Jahangirnagar, Bangladesh, menunjukkan bahwa ekstrak tanaman kencur baik rimpang/akar mauoun daunnya memiliki sifat antidepresan terhadap sistem saraf pusat yang bisa memberikan efek sedatif atau menenangkan.
Hasil penelitian tersebut menguatkan tentang manfaat kencur untuk kesehatan sebagai efek sedatif yang signifikan. Itulah sebabnya, banyak orang memanfaatkan kencur untuk mengurangi efek stres, cemas, gelisah, dan depresi. Meski demikian, penelitian ini masih membutuhkan riset lebih lanjut mengenai khasiat kencur untuk kesehatan tubuh manusia.
·       Obat Diare
Hasil penelitian lain yang dilakukan oleh peneliti yang sama menunjukkan bahwa ekstrak kencur memiliki kandungan zat sitotoksik dan antibakteri dalam jumlah yang lumayan banyak. Hal ini membuat kencur dapat dijadikan salah pilihan untuk pengobatan diare.
·       Bahan Utama Jamu
Di Indonesia, kencur merupakan bahan utama yang digunakan untuk membuat jamu, baik jamu tradisional maupun modern buatan pabrik. Minuman jamu sering disebut dengan beras kencur yang terbuat dari campuran beras, kencur, asam jawa, serta gula merah. Kencur yang diolah menjadi minuman jamu bermanfaat untuk meningkatkan nafsu makan, mengatasi masalah pencernaan, sakit perut, sesak nafas, pilek, dan juga sakit kepala.
·       Manfaat Kencur Lainnya
Selain dagingnya, daun dan akar kencur juga memiliki khasiat dan manfaat untuk kesehatan tubuh. Beberapa manfaat yang dihasilkan daun kencur, di antaranya, untuk mengatasi demam, bengkak, rematik, dan sebaginya karena bersifat antiradang.
Adapun bagian akarnya, kencur memiliki manfaat untuk mengobati sakit gigi dan ketombe. Akar kencur juga dapat digunakan untuk membantu mengobati cedera otot dan pembengkakan. Caranya, tumbuk akar kencur dengan segenggam beras sampai halus, lalu balurkan pada bagian tubuh yang mengalami cedera atau pembengkakan.
(Sumber: https://lifestyle.okezone.com/read/2017/08/24/481/1762219/ingin-hilangkan-stres-kencur-solusinya-simak-juga-manfaat-lainnya,  Agregasi Hellosehat.com, Kamis, 24 Agustus 2017, 14.49 WIB, dengan penyuntingan seperlunya)

Popularitas Kunyit Meroket, Ini Pendapat Pakar

Kunyit (Sumber: www.123rf.com)

TEMPO.CO, Jakarta - Popularitas kunyit sebagai makanan super sahabat kesehatan terus meningkat, termasuk di dunia Barat yang sebelumnya kurang akrab dengan bumbu dapur yang banyak digunakan di Asia Tenggara dan Selatan ini. Para pakar kesehatan di Barat pun terus meneliti manfaat kunyit dan sejak awal 2016 makin banyak toko atau swalayan yang menjual kunyit, termasuk dalam bentuk smoothies dan salad.
Menurut pakar gizi Dr. Claudia Gravaghi, zat paling penting dalam kunyit adalah curcumin yang mengandung zat antioksida dan antiperadangan yang ampuh. "Penelitian juga menunjukkan bahwa ekstrak kunyit mampu meredakan rasa sakit dan membantu penderita radang sendi. Sebelumnya juga sudah ada bukti bahwa kunyit bisa membantu mengatasi nyeri dan pembengkakan sendi dan mengurangi peradangan penyebab kanker," jelas Gravaghi.
Elizabeth Wall, ahli gizi di Holland & Barrett, menyatakan bahwa kunyit bisa membantu menetralkan radikal bebas, yang berbentuk dasar atom-atom yang tidak stabil dan bisa merusak sel-sel dalam tubuh sehingga menyebabkan penuaan dan penyakit. Sementara itu, dermatolog, Dr. Sweta Rai, mengatakan bahwa zat yang terdapat di dalam kunyit memiliki dampak positif untuk kondisi kulit karena mampu membantu mengatasi jerawat, eksim, serta penuaan.
Oleh karena popularitas yang terus menanjak, penelitian terhadap kunyit pun dilanjutkan untuk mengetahui apakah akar dengan daging berwarna kuning tua ini juga bisa membantu mengatasi diabetes, alzheimer, dan depresi. Menurut Walls, penelitian memang masih dalam tahap awal, tetapi sudah menunjukkan prospek positif.
Hanya saja, cara untuk memasukkan zat-zat penting dalam kunyit tak bisa dikatakan mudah. Kandungan cucurmin yang kecil dalam setiap makanan yang menggunakan kunyit membuat para ahli pun sukar menentukan berapa banyak kunyit yang harus dikonsumsi, belum lagi kemampuan tubuh setiap orang untuk menyerap zat dalam kunyit yang berbeda-beda.
Menurut Gravaghi, cucurmin larut dalam lemak sehingga cara efektif untuk mendapatkan kebaikannya adalah dengan mengasupnya bersamaan dengan lemak. Tanpa lemak, cucurmin sulit bereaksi di dalam perut, masuk ke usus kecil, dan kemudian ke dalam darah, di mana manfaat terbesarnya akan disebarkan. "Cara terbaik untuk mengasup curcumin adalah dengan bahan makanan berlemak, seperti kari atau santan," tutur Gravaghi.
Penelitian juga menunjukkan, lada hitam membantu meningkatkan penyerapan curcumin oleh tubuh. Namun, bila ingin merasakan manfaatnya di kulit, sebaiknya kunyit dipakaikan langsung di kulit dan bukan dikonsumsi dalam bentuk makanan. Contohnya adalah mengoleskan pasta bubuk kunyit di wajah untuk mengatasi jerawat.
Kunyit juga diklaim tak memiliki efek samping atau menyebabkan alergi karena alami dan hanya dikonsumsi dalam jumlah kecil. Namun, jika dikonsumsi terlalu banyak, kunyit bisa menyebabkan masalah pencernaan, seperti mual dan diare.
(Sumber: https://bisnis.tempo.co/read/1108236/mengenal-trastuzumab-obat-kanker-yang-tak-lagi-ditanggung-bpjs, Rabu, 18 Juli 2018 17:26 WIB, dengan penyesuaian/penyuntingan seperlunya)

Kunyit Kini Tengah Jadi Tren di Barat

Ramuan kunyit (8umber: http://caracepatmemutihkanwajah.com)


TEMPO.CO, Los Angeles - Kunyit (kunir) yang merupakan salah satu sumber pengobatan dari Timur kini tengah menjadi tren di Barat. Minuman dari kunyit yang dijuluki sebagai golden ismilk laris manis dalam ajang Natural Products Expo 2016 di California, Amerika Serikat. Popularitasnya menyaingi matcha yang menjadi tren di ajang yang sama tahun sebelumnya.
Ajang yang digelar setiap tahun ini bertujuan memperkenalkan dan mengevaluasi produk alami terbaru. Tahun ini merupakan kali ke-36 perhelatan itu digelar. Kunyit mulai diperkenalkan dalam ajang ini sejak tiga tahun lalu. Pertama dikenalkan dalam bentuk minuman, kini kunyit tampil dalam aneka varian, mulai dari minuman hingga aneka bumbu masakan.
Menurut situs New York Times, kunyit menjadi ramuan dewa yang menyehatkan berkat kandungan senyawa kuning yang disebut kurkumin di dalamnya. Zat ini dikenal dalam dunia pengobatan tradisional dan kontemporer karena manfaatnya bagi kesehatan.
Kunyit kerap digunakan untuk mengobati penyakit yang terkait dengan peradangan, kanker arthritis, dan bisul. Umbi yang banyak tumbuh di Asia ini juga dikaitkan dengan penyembuhan luka, dan penelitian terbaru mempelajari hubungannya dengan penyakit alzheimer.
Dalam penelitian itu, Andrew Scholey dari Swinburne University of Technology melakukan serangkaian penelitian dengan sasaran kelompok usia 60-85 tahun. Beberapa relawan diberi kapsul yang terbuat dari ekstrak kunyit sementara sisanya diberi plasebo. Mereka kemudian diminta menyelesaikan serangkaian tugas yang memerlukan kerja otak, seperti mengingat kata-kata dan gambar, pengurangan sederhana, serta latihan yang menguji reaksi mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pertama memiliki kinerja yang lebih baik dalam tugas-tugas yang membutuhkan daya ingat dan kewaspadaan dibanding kelompok kedua. Kelompok dengan kurkumin itu juga tidak menunjukkan kelelahan dan terlihat lebih tenang, tidak stres.
Namun, Barbara Delage dari Micronutrient Information Center di Linus Pauling Institute menyatakan, bioavailabilitas kunyit sangat miskin. Mengklaim bahwa kunyit berguna bagi manusia adalah prematur mengingat bukti saat ini, katanya.
Kunyit, katanya, tidak menempel di dalam tubuh manusia untuk waktu yang lama dan hanya sedikit dari senyawanya yang diserap tubuh. Upaya untuk mengembangkan bentuk senyawa yang lebih mudah diserap sedang berlangsung, katanya, dan akan dilanjutkan dengan uji keamanan dan efektivitasnya.
Ia membenarkan studi laboratorium menunjukkan manfaat besar kunyit. Dalam satu penelitian, kurkumin terbukti menghambat inflamasi pada tikus. Penelitian dalam skala laboratorium juga membuktikan kunyit dapat meringankan radang usus, menumpulkan respons imun pada pasien rheumatoid arthritis, dan mengurangi peradangan saraf dalam kasus cedera otak traumatis.
Dalam penelitian terhadap manusia, beberapa uji klinis kecil menemukan kurkumin menjadi seefektif obat anti-inflamasi nonsteroid untuk mengurangi kekakuan dan pembengkakan pada rheumatoid arthritis. Bahkan, penggunaan kunyit lebih efektif daripada beberapa obat standar yang digunakan untuk mengurangi keparahan. Namun, Delage mengatakan, Anda tidak bisa menyimpulkan apa-apa dengan satu atau dua penelitian kecil, dan Anda harus sangat skeptis tentang ini.